Jokowi Bahas Pola Pembangunan Kebudayaan Nasional

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Rabu, 24/08/2016 08:15 WIB
Jokowi menyebut pemerintah tidak ingin terfokus pada pembangunan infrastruktur besar saja. Ia berkata, kebudayaan juga vital sebagai penyeimbang kehidupan. Jokowi menyebut pemerintah tidak ingin terfokus pada pembangunan infrastruktur besar saja. Ia berkata, kebudayaan juga vital sebagai penyeimbang kehidupan. (REUTERS/Feng Li)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo menggelar dialog bersama belasan tokoh kebudayaan di Galeri Nasional, Jakarta, kemarin. Pada forum tersebut, Jokowi memantik pembicaraan terkait program kebudayaan Indonesia.

"Jangan terus membicarakan permasalahan ekonomi dan politik. Kita lupa ada sisi budaya yang harus diperhatikan," ujarnya usai pertemuan.

Jokowi menuturkan, pendapat tokoh kebudayaan vital sebagai kerangka dasar pengambilan kebijakan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu terlihat mencatat masukan para budayawan dengan pena biru di atas secarik kertas.


Tiga dari sejumlah poin dialog tersebut adalah menggairahkan kembali sastra nasional, menguatkan diplomasi kebudayaan dan membangun pusat-pusat kebudayaan di pedesaan.

"Ruang budaya diperlukan sehingga orang tidak hanya bicara ekonomi dan politik. Ada sisi lain yang sangat diperlukan untuk menyeimbangkan hidup," tutur Jokowi.
Di luar substansi pembicaraan mengenai kebudayaan, Jokowi tampak ceria pada dialog tersebut. Ia berkata, para budayawan kerap menyampaikan pendapat mereka dengan selingan canda.

"Tadi banyak ketawa karena ada salah satu budayawan yang mengatakan saya presiden yang berperilaku dan berwajah paling ndeso," ucap Jokowi.

Budayawan Radhar Panca Dahana membenarkan salah satu rekannya menyebut Jokowi sebagai presiden ndeso.

Menurutnya, Jokowi memang mewakili wajah orang pedesaan dan berbeda dengan karakter enam presiden Indonesia sebelumnya.

"Wajah-wajah presiden sebelumnya mewakili kota dan urban sehingga masyarakat tidak merasa dekat dengan dia. Jokowi secara fisik saja sudah mewakili, merepresentasikan kita, begitu juga dengan tindakannya," kata Radhar.
Budayawan berharap pemerintahan Jokowi tidak melupakan desa dan tidak terfokus pada percepatan infrastruktur di kota saja.

Radhar yakin, Jokowi dapat memahami dan menerima cara budayawan menyampaikan pesan melalui guyonan. "Tidak dengan retorika yang njilimet, tapi dengan kelakar yang mungkin lambat diterima akal, tetapi hati mampu menangkapnya," ucap dia.

Pada diskusi di Galeri Nasional, Jokowi ditemani Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Selain Rahdar, beberapa budayawan yang hadir pada dialog itu, antara lain Edi Sedyawati, Sri Edi Swasono, Jim Supangkat, Arswendo Atmowiloto, Frans Magnis Suseno, Jean Couteau, Garin Nugroho, Gregorius Djaduk Ferianto, Nasirun, Ahmad Tohari, dan Butet Kertaredjasa.
(abm/abm)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK