Ardianto merupakan dokter umum yang membantu menangani korban Wayan Mirna Salihin saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada 6 Januari lalu.
Ardianto mengaku sempat menawari keluarga korban untuk melakukan autopsi pada jasad Mirna. Namun keluarga yang diwakili ayah Mirna saat itu menolaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, kata dia, keluarga korban hanya meminta dokter untuk melakukan pengambilan cairan lambung. Permintaan ini muncul lantaran ayah korban merasa anaknya telah diracun.
Setelah CT Scan, ternyata hasilnya normal. Keluarga korban lantas memintanya untuk mengambil dua sampel cairan dari lambung Mirna.
Ardianto juga menegaskan bahwa Mirna telah meninggal sebelum tiba di RS Abdi Waluyo. Dia turut menangani saat dokter Prima tengah melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada Mirna.
"Mirna memang meninggal sebelum tiba di RS. Saat itu kondisi bibirnya sudah kebiruan," ucap Ardianto.
Ayah Mirna, Darmawan Salihin merasa ada titik terang setelah kepolisian melakukan autopsi pada jenazah putrinya.
"Kata polisi tidak ada penuntutan kalau tidak ada autopsi. Hasil autopsi kemungkinan akan menjelaskan," kata Darmawan seperti dilansir dari detik.com pada Januari lalu. (rel)