KPK Periksa Eks Dirjen Minerba Terkait Korupsi Nur Alam

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Jumat, 02/09/2016 13:57 WIB
Selain Dirjen Minerba, KPK juga memanggil tiga pihak swasta yaitu Ratih Dewihandjani, Yudhistira Setyawan, dan Teguh Budiyanto. Kasus korupsi Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam ikut menyeret Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Setiawan. (Dok. setkab.go.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Setiawan.

Pemeriksaannya terkait dengan korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam persetujuan dan penerbitan Izin Usaha Pertambangan di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2008-2014.

Berdasarkan keterangan resmi KPK, Bambang sedianya akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Gubernur Sultra Nur Alam.


Selain Bambang, KPK juga memanggil tiga pihak swasta, yaitu Ratih Dewihandjani, Yudhistira Setyawan, dan Teguh Budiyanto. Serta seorang saksi lain dari kalangan notaris bernama Andi Nurmadiyanti.

Sejak menetapkan Nur Alam sebagai tersangka, KPK telah memeriksa sejumlah pihak yang diduga memiliki informasi atas korupsi tersebut. Selain itu, KPK mensinyalir ada dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh Nur Alam.

KPK menetapkan Nur Alam sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dalam perizinan tambang di provinsi yang ia pimpin. Nur Alam diduga melakukan perbuatan hukum dengan menyalahgunakan kewenangannya sebagai gubernur Sulawesi Tenggara, untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, dan korporasi.

Terdapat sejumlah aturan atau kebijakan yang dikeluarkan oleh Nur Alam kepada PT Anugerah Harisma Barakah yang diduga sebagai bagian dari modus korupsinya.

Nur Alam sebelumnya juga pernah dibidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara dalam kasus rekening gendut. Dia diduga menerima uang sebesar US$4,5 juta dari perusahaan asal Hong Kong, Richcorp International Limited.

Richcorp merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tambang. Perusahaan itu membeli nikel dari PT Billy Indonesia yang membuka tambang di Konawe Selatan, Sultra.

Penyelidikan itu berdasarkan hasil laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Namun, Kejaksaan menghentikan kasus itu, dengan alasan Nur Alam telah mengembalikan duit ke Richcorp. (wis/rdk)