Hal itu ditandai dengan pembacaan surat Presiden Joko Widodo atas pengangkatan Budi pada rapat paripurna DPR, Selasa (6/9).
"Surat Presiden nomor R58/Pres09/2016 tanggal 1 September perihal permohonan pemberhentian dan pengangkatan Kepala BIN," kata Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan selaku pimpinan rapat paripurna di Gedung DPR, Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya dengar, Insya Allah Jumat ini akan dilakukan pelantikan di Istana,” ujarnya kemarin.
Lihat juga:Jokowi Calonkan Budi Gunawan Jadi Kepala BIN |
"Harus ada yan dibenahi termasuk koordinasi. Misalnya BAIS, intelijen Polri, intelijen Kejaksaan. Kalau BIN mampu, intelijen akan lebih kuat. Kalau bisa disatukan," kata Meutya.
Menurutnya, Budi dapat mengaplikasikan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Badan Intelijen Negara terkait fungsi koordinasi lembaga intelijen.
"Sekarang belum mampu terkoordinasi, tentara sendiri, Polri sendiri. Pak BG kita sarankan bisa buat format agar ini terjadi," ucapnya.
Jika pengangkatan Budi lancar, ia akan menjadi perwira tinggi kepolisian kedua yang menjadi orang nomor satu di badan telik sandi.
Sejak bernomenklatur Badan Intelijen Negara, badan telik sandi itu telah dipimpin lima pejabat berbeda, yakni AM Hendropriyono, Syamsir Siregar, Sutanto, Marciano Norman dan Sutiyoso.
Dari lima tokoh itu, hanya Sutanto yang berlatar belakang Polri. Empat lainnya merupakan petinggi TNI Angkatan Darat.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala BIN Sutiyoso belum berkomentar tentang suksesi kepemimpinan di BIN. Ketika surat pengangkatan Budi dikirimkan Istana Negara ke DPR pekan lalu, ia mendampingi Jokowi ke perheletan G-20 di China dan pertemuan antarnegara di Laos.