Poros Baru Yusril Dianggap Tak Lebih dari Ambisi Personal

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Minggu, 11/09/2016 13:49 WIB
Poros Baru Yusril Dianggap Tak Lebih dari Ambisi Personal Bakal calon gubernur DKI Jakarta Yusril Ihza Mahendra. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya Yusril Ihza Mahendra membentuk poros baru dukungan calon gubernur DKI Jakarta dinilai belum tentu bisa memuluskan dirinya melenggang di Pilkada 2017.

Pengamat politik senior dari LIPI Syamsudin Haris menganggap usaha Yusril dengan poros baru itu tidak lebih dari ambisi personalnya. Kesuksesan poros itu dinilai bakal sulit terwujud meski diklaim telah mendapat dukungan dari sejumlah partai politik.

"Saya tidak begitu yakin dengan poros baru ini, sebab itu kan keinginannya Pak Yusril bukan datang dari keinginan partai politik," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com di Jakarta, Minggu (11/9).


Poros baru yang disebut Yusril adalah koalisi dukungan yang melibatkan Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Yusril adalah satu dari enam nama yang mendaftar dalam penjaringan calon gubernur yang digelar Demokrat. Selain dia, Sandiaga Uno dan Hasnaeni Moein yang dijuluki Wanita Emas, ikut pula dalam penjaringan.

Yusril sebelumnya mengklaim dirinya bakal diusung oleh partai dalam poros baru itu di depan pendukungnya di Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Syamsuddin pesimistis koalisi itu akan terwujud karena inisiatif itu tidak datang dari parpol yang disebut akan mengusung Yusril. Hal ini hanya didasari oleh keinginan Yusril untuk menjadi orang nomor satu di DKI.

"Bisa jadi itu menjadi salah satu faktor pentingnya, dia jelas ngapain jadi cawagub karena tidak punya kekuasaan, dia inginnya jadi cagub," ucapnya.

Sejauh ini, Syamsuddin menilai, hanya terdapat dua pasangan calon yang paling kuat mendapatkan perhatian di masyarakat DKI Jakarta. Kedua pasangan itu adalah Sandiaga dengan Mardani dan bakal calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dengan bakal wakil gubernurnya Djarot Saeful Hidayat.

Hal ini akan semakin kuat, menurut Syamsuddin, saat PDI Perjuangan memutuskan untuk mengusung Ahok dan dipasangkan dengan Djarot.

"Kalau PDI Perjuangan sudah memutuskan mendukung Ahok-Djarot, pasti partai yang disebut dalam poros alternatif itu bisa memutuskan untuk bergabung dengan Gerindra yang mempunyai kursi terbanyak kedua setelah PDI Perjuangan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Pemenangan Pilkada Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Andi Nurpati, menyatakan bahwa dukungan partainya terhadap Yusril bergantung pada elektabilitas yang dia miliki.

"Yusril salah satu yang mendaftar dalam mekanisme pencalonan kami. Jadi kalau dia mendapat rekomendasi dari kami, itu hal yang wajar," ujar Andi.

Meski demikian, Andi menegaskan pilihan partainya dalam hal ini tidak sekadar mempertimbangkan latar belakang bakal calon. "Yang tak kalah penting adalah elektabilitas calon, karena kami memprioritaskan faktor kemenangan," kata dia. (gil)