Prosesi ini sama persis seperti yang diterima mantan Kapolri Jenderal (Purn) Badrodin Haiti, Juli lalu.
Bedanya, ekspresi Badrodin kala itu tampak lebih terharu dibandingkan dengan Budi. Jenderal baru ini kelihatan lebih dingin menghadapi segala kemeriahan di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah selesai, barisan anggota polisi menghunuskan pedang di atas kepala, membentuk semacam gerbang. Prosesi yang disebut pedang pora itu biasa dilakukan di kalangan polisi dan militer untuk melepas pimpinan.
Lewat dari gerbang semu itu, Budi yang berkalung bunga langsung dihadapkan dengan yel-yel anak buahnya dari pasukan Brigade Mobil. "Hidup polisi, hidup polisi, hidup polisi," nyanyi mereka dengan kompak.
Confetti adalah potongan-potongan kecil kertas atau logam berwarna yang dilemparkan selama perayaan, parade, dan pesta.
Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian yang turut mengantar Budi hingga pintu mobilnya tidak menjelaskan secara langsung soal prosesi ini. Namun, usai itu, dia menyebut Budi sebagai sosok yang berpengaruh besar bagi Polri.
"Baru saja dilaksanakan pelepasan Pak Budi Gunawan sebagai Wakapolri sekaligus ditempatkan di luar struktur Polri sebagai Kepala Badan Intelijen Negara, maka dilakukan prosesi tradisi," kata Tito.
Menurut Tito, Budi Gunawan merupakan sosok yang fenomenal karena berjasa besar bagi Polri, salah satunya mengawal transisi polisi dari ABRI.
"Dia adalah sosok yang berperan dalam reformasi instrumental seperti Undang-Undang Polri. Banyak masukan dan kerja keras dari Pak Budi Gunawan baik sebagai pemikir, juga karena jaringannya sangat luas," kata Tito. (rel)