“Kami tidak pernah membahas atau merekomendasikan ke pemerintah untuk menambah kuota impor gula. Kami sangat berpihak kepada rakyat, terutama petani tebu yang sangat tidak setuju impor gula,” kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Minggu (18/9).
Untuk itu, Ibrahim menjelaskan, dirinya tidak bisa memerkirakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ketua DPD Irman Gusman sehingga tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran kuota impor gula. Dia memastikan, pembahasan internal terkait impor gula juga tak pernah dibahas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami ada empat komite, komite lain juga akan rapat internal besok. Lusa (Selasa), baru kami akan rapat paripurna. Kemungkinan soal Bang Irman juga dibahas di paripurna,” ujar Ibrahim.
“Kalau sesuai tata tertib, apabila ketua berhalangan, maka wakil-wakil ketua menjalankan tugas sebagai ketua. Apabila beliau berhalangan tetap sebagai terpidana, kami harus memilih ketua,” kata Ibrahim.
Berdasarkan Pasal 23 ayat 2 Peraturan DPD Nomor 1 tahun 2014 tentang Tata Tertib, anggota diberhentikan antarwaktu jika melanggar sumpah dan kode etk dan dinyatakan bersalah atas putusan pengadilan karena melakukan pidana dengan ancaman lima tahun.
Irman ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada Jumat malam lalu terkait kuota impor gula. Setelah menjalani pemeriksaan intensif sejak ditangkap, Irman ditahan di Rumah Tahanan Klas I Jakarta Timur Cabang KPK di Gedung KPK selama 20 hari mendatang sejak Sabtu.
Selain Irman, KPK juga menahan Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto (XSS) dan istrinya Memi.
Kuota impor gula yang diduga dilakukan Irman tersebut adalah kuota yang diberikan Bulog kepada CV pimpinan Sutanto. Irman diduga menerima uang dari Sutanto dan Memi sebesar Rp100 juta untuk mengurus kuota impor tersebut.
Berdasarkan informasi, Sumatera Barat sebenarnya tidak memiliki kuota impor gula. Namun diduga karena pengaruh yang diberikan Irman, kuota impor tersebut dibuka dengan memberikan jatah kepada CV Semesta Berjaya sebesar 3.000 ton.
Saat ini, kuota yang sudah dikirimkan sebesar 1.000 ton, dan 700 ton di antaranya sudah didistribusikan, sementara sisanya masih ada di gudang. (rdk)