Aulia Bintang Pratama
Lulusan jurnalistik yang memulai kariernya di CNNindonesia.com sejak Agustus 2014. Ditugaskan mengawal isu politik dan memiliki impian menjadi wartawan kanal olahraga. Menikmati permainan Manchester United untuk menghilangkan penat.

KOLOM

Menyaksikan Juara Bertahan Melawan Underdog di Pilkada DKI

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Selasa, 27/09/2016 14:35 WIB
Menyaksikan Juara Bertahan Melawan Underdog di Pilkada DKI Ilustrasi. (CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 kemungkinan besar diikuti tiga pasangan calon, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, Agus Yudhoyono-Sylviana Murni, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Jika dianalogikan seperti liga sepakbola, pilkada DKI adalah piala yang diperebutkan juara bertahan dan dua tim berstatus underdog. Juara bertahan?

Julukan itu pas disematkan pada pasangan petahana Ahok-Djarot. Selama hampir dua tahun pasangan ini telah menjalankan pemerintahan DKI yang ditinggalkan Joko Widodo.


Baik Ahok maupun Djarot memiliki sifat berbeda, sang gubernur yang meledak-ledak layaknya seorang striker haus gol, sementara Djarot lebih tenang tapi diam-diam memiliki kemampuan yang diakui partainya. Djarot cocok jika disebut sebagai gelandang pengatur serangan.

Kombinasi Ahok dan Djarot bisa dikatakan sukses membuat Jakarta lebih baik, mengacu pada perkataan salah satu partai pengusung keduanya yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Keduanya dianggap mampu berkomunikasi dengan baik dengan pemerintah pusat dan bisa mewujudkan visi misi Jakarta Baru seperti yang pernah dicanangkan Jokowi.

Jalan Ahok-Djarot memimpin Jakarta tak selalu mulus karena serangan dari berbagai penjuru, yang membuat mereka dilanda “badai cedera”.

Tak lama setelah Ahok memimpin Jakarta, dia harus menghadapi masalah penyusunan APBD, berhadapan dengan DPRD DKI Jakarta. Polemik APBD 2015 sempat akan berujung pada Hak Menyatakan Pendapat DPRD DKI—yang bisa berujung pada impeachment terhadap sang gubernur.

Tak berhenti di situ. Kebijakan Ahok-Djarot soal penertiban kawasan kumuh di pinggir aliran sungai, di lahan hijau, dan di lahan milik negara juga mendapat tentangan dari banyak pihak terutama warga. Protes lantaran penggusuran dianggap tak memikirkan warga yang tinggal di sana.

Satu “badai cedera” lainnya yang hingga kini masih menghinggapi pemerintahan Ahok-Djarot adalah reklamasi pantai utara Jakarta. Reklamasi yang sarat kontroversi menjadi salah satu kartu untuk menyerang kepemimpinan mereka. Dasar hukum perizinan yang menggunakan Keputusan Presdien Nomor 52/1995 dianggap tak jelas.

Lebih dari itu, Ahok dituduh tak memikirkan dampak lingkungan dalam pembangunan 17 pulau di pesisir utara Jakarta.

Meski serangan masif dan bertubi-tubi itu masih menghantam pemerintahan sang petahana, namun benteng pertahanan Ahok-Djarot masih kuat. Hak Menyatakan Pendapat tanpa hasil, penggusuran tetap berjalan, dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan masih menganggap reklamasi dapat teruskan—meskipun belum ada surat resmi yang diterbitkan untuk melanjutkan reklamasi 17 pulau.

Entah siapa “dokter” yang berdiri di belakang Ahok-Djaort, tapi dia seakan bisa menyembuhkan segala cedera yang dilanda sang “juara bertahan”. Menyongsong Pilkada 2017, Ahok-Djarot mendapat sokongan tenaga yang tak main-main dengan empat partai pendukung: PDIP, Partai NasDem, Golkar, dan Hanura.

Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri menjadi pengusung utama sekaligus “manager” bagi Ahok-Djarot. Tiga partai lainnya bertugas sebagai “asisten pelatih”.

Melihat komposisi “kepelatihan” tersebut, bukan hal aneh jika ada yang menganggap Ahok-Djarot akan menang mudah di Pilkada 2017. Ada 52 kursi DPRD DKI di tangan, ditambah dukungan warga lewat relawan Teman Ahok membuat anggapan itu bukan hanya sesumbar.

Tapi juara bertahan tidak bisa jumawa lantaran di belakang mereka ada dua tim underdog yang secara mencengangkan dipasangkan pada menit terakhir, terutama Agus Yudhyono-Sylviana Murni. Kemunculan mereka diperkirakan bisa mengganggu suara Ahok-Djarot.

Jangan Remehkan Underdog

Di dunia sepakbola, underdog biasa disematkan pada tim yang selalu berkutat di papan bawah klasemen atau berasal dari liga antah berantah. Di gelaran Pilkada DKI, julukan underdog sudah tentu ada pada dua pasang calon yaitu Agus-Sylvi dan Anies-Sandi.

Kedua pasang kandidat tersebut tidak memiliki kelebihan seperti yang dikantongi Ahok-Djarot: pengalaman memimpin sebuah daerah, baik di kabupaten, kota, atau provinsi.

Nama Agus-Sylvi sama sekali tak masuk bursa pencalonan Pilkada DKI sebelumnya. Dalam survei resmi lembaga, nama mereka tak pernah muncul. Pernyataan para elite yang tergabung dalam poros Cikeas menjadi kenyataan bahwa mereka akan memunculkan pasangan yang mengejutkan.

Agus adalah putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono dan memiliki karier moncer di dunia militer Indonesia. Dia secara tak terduga bersedia mengundurkan diri demi mencoba peruntungan di dunia politik.

Sylvi adalah None Jakarta 1981 yang kini menjabat Deputi Gubernur DKI bidang Kebudayaan dan Pariwisata. Dia sempat dirayu Sandiaga Uno namun mendadak muncul di rumah Cikeas pada Jumat dini hari (23/9) sekitar pukul 02.15 WIB—hari terakhir pendaftaran bakal calon di KPU DKI—dan menerima pinangan menjadi pasangan Agus.

Pengorbanan dilakukan Agus-Sylvi karena bagi mereka sudah dipastikan: tak ada kata kembali ke posisi sebelumnya seandainya mereka gagal di Pilkada DKI.

Secara kasat mata, pasangan ini memang kalah mentereng dibanding Ahok-Djarot, namun tapi tidak bisa menjadi patokan bahwa keduanya tak dapat memberi perlawanan. Apalagi mereka mendapat dukungan dari empat partai yaitu Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang juga harus diperhitungkan.

Anggapan dari para partai pengusung yang menyebut kemampuan Agus di bidang militer bisa menjadi keunggulan tersendiri memang bukan bualan. Setidaknya, terlihat dari polling melalui Twitter yang dilakukan CNNIndonesia.com pada Jumat lalu.

Dari 1.245 responden yang ikut polling, 87 persen di antaranya lebih memilih Agus melanjutkan kiprahnya di militer, dan hanya 13 persen yang mendukung keberadaannya di pemerintahan. Polling itu menjawab pertanyaan tunggal: Agus Yudhoyono resmi diusung Poros Cikeas untuk Pilkada Jakarta 2017, namun menurut Anda, posisi manakah yang lebih pantas untuk Agus?

Terlepas dari itu, jiwa kepemimpinan Agus dianggap mirip sang ayah, darah muda dalam dirinya, serta kecerdasannya menjadi daya tarik untuk menggaet hati masyarakat Jakarta, terutama pemilih pemula. Agus bisa disebut rising star karena memang ini pertama kalinya dia menyentuh dunia politik.

Hanya masalah waktu untuk melihat apakah perjudian empat “pelatih” yang mempromosikan Agus, akan membawanya menjadi bintang besar atau malah menjadi “pemain overrated” yang tak berkembang.

Dengan alasan menutupi kekurangan pengalaman birokrasi Agus, Poros Cikeas menggadang Sylvi yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) karier sejak 1985. Poros Cikeas membajak Sylvi karena dianggap tahu seluk beluk Jakarta dan pengalaman panjang di birokrasi Pemprov DKI. Kekuatan ini yang dianggap dapat mengimbangi kelebihan utama Ahok-Djarot.

Antara poros Cikeas dengan Sylvi sebenarnya berada pada posisi saling menguntungkan.

Usia Sylvi yang kini menginjak 57 tahun, bisa saja menjadi titik balik bagi kariernya hanya sampai Deputi Gubernur hingga memasuki usia pensiun kelak. Untuk itu, pilihan pensiun dini sebagai PNS dan bertarung di pilkada merupakan pilihan tepat jika melihat dari sisi karier.

Taktik Poros Cikeas menggabungkan rising star dengan “pemain senior” biasa dilakukan tim underdog.

Lihat saja kiprah Leicester City di Liga Inggris musim lalu. Dengan kombinasi rising star di tubuh Riyadh Mahrez dan pemain senior seperti Wes Morgan dan Robert Huth, mereka bisa mengagetkan dunia dengan menjadi juara liga.

Mungkin cerita indah Leicester City musim lalu dapat dijadikan motivasi bagi Poros Cikeas dan berharap pasangan Agus-Sylvi yang minim pengalaman memimpin daerah bisa memenangkan pertarungan panas pilkada DKI.

Bagaimana dengan Anies-Sandi?

Nama Sandiaga sudah muncul berbulan-bulan lalu setelah dia didorong Partai Gerindra untuk menantang Ahok. Sandiaga sebelumnya bahkan digadang menjadi calon gubernur, walau akhirnya harus mengalah dan menjadi calon wakil gubernur.

Sandi berkecimpung di bidang perekonomian dan dikenal sebagai pengusaha sekaligus pengurus organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Posisinya di Kadin adalah wakil ketua umum bidang UMKM dan Koperasi.

Keinginan untuk maju di Pilkada 2017 membuat dia dengan senang hati melepaskan jabatan di Kadin dan fokus mempromosikan diri ke masyarakat Jakarta. Pundi uang sebagai pengusaha disebut menjadi salah satu keunggulan Sandi—layaknya tim gurem di sepakbola yang mendadak punya pemain bintang karena suntikan uang dari pemilik berduit.

Bukan itu saja. Posisinya di Kadin membuat dia sangat dekat dengan pasar dan bisa menjadi keunggulan menghadapi dua pasangan lain.

Sementara Anies Baswedan, belum lama ini menjadi korban perombakan kabinet Presiden Joko Widodo. Nama dia baru muncul di bursa pemimpin DKI baru-baru ini ketika sebuah lembaga survei tiba-tiba memunculkan nama Anies dan terbukti jadi kenyataan.

Sebenarnya sebelum nama Anies muncul, Sandi santer disandingkan dengan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera dan Sekda DKI Saefullah. Namun setelah rapat maraton sejak Rabu malam (21/9) di kediaman Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, disepakati nama Anies-Sandi.

PKS disebut legowo menyerahkan kursi calon gubernur untuk Anies dan mengubur mimpi mengusung kader partai. Prabowo juga legowo mendukung Anies mengingat rivalitas keduanya saat Anies masih menjadi tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden 2014.

Jika dua pasangan sebelumnya didukung oleh segerombolan partai, Anies-Sandi hanya didukung dua partai yaitu Gerindra dan PKS.

Anies lama berkecimpung di dunia pendidikan, pernah menjabat Rektor Universitas Paramadina, pencetus program Indonesia Mengajar, dan menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan selama dua tahun. Namun kemampuan Anies memimpin daerah belum teruji, sama halnya dengan Sandi.

Kondisi Anies-Sandi dan Agus-Sylvi memang tak sebaik Ahok-Djarot lantaran minus pengalaman memimpin daerah. Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono—didompleng nama sang ayah—memiliki nama besar. Namun tentu saja, besar saja tak cukup untuk memenangkan pertarungan politik di Jakarta.

Perlu ada kerja sama antar lini, baik antara calon gubernur dan calon wakil gubernur, dan juga di antara partai pengusung. Tanpa harmoni itu, belum tentu nama besar dan segala kelebihan yang mereka miliki bisa mengantar mereka memenangkan pertandingan. (rdk)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS