Pencarian korban banjir bandang sudah memasuki hari ke delapan atau perpanjang waktu dari batas yang ditetapkan proses pencarian selama tujuh hari.
"Hari kedelapan Tim SAR gabungan akan kembali melanjutkan pencarian terhadap para korban yang belum diketemukan," kata Joshua dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendaraan operasional pendukung lainnya seperti truk angkut ATV, truk personel, alat komunikasi, dan alat "drone" atau pesawat tanpa awak, juga dikerahkan.
Selain korban jiwa, ada juga warga korban banjir yang dilaporkan hilang sebanyak 19 orang.
Sementara itu di Cilegon, Santaf (55), seorang nelayan pesisir Selat Sunda ditemukan tewas akibat cuaca buruk yang melanda perairan itu dalam satu pekan terakhir. Santaf merupakan warga Kosambi Ronyok, Kabupaten Serang.
Kepala Subdirektorat Penegakkan Hukum Direktorat Polisi Air Banten Ajun Komisaris Besar Noman Trisapto mengatakan, peristiwa kecelakaan laut yang merenggut nyawa Santaf terjadi akibat gelombang tinggi disertai angin kencang. Hal itu menyebabkan perahu milik Santaf berukuran panjang 2,5 meter dan lebar 1 meter tenggelam.
Dalam sepekan terakhir, cuaca di perairan Selat Sunda bagian utara Provinsi Banten kurang bersahabat bagi nelayan. Apalagi sebagian besar nelayan pesisir Selat Sunda menggunakan perahu kecil yang tidak tahan menghadapi gelombang setinggi 2,5-3,0 meter.
Santaf pergi melaut pada Minggu (25/9) di Pantai Anyer dengan menggunakan perahu kincang bermotor mesin tempel menuju Pantai Pulau Ular. Namun sejak dua hari terakhir korban tidak kembali dan kemungkinan mengalami kecelakaan laut.
Mendapat informasi nelayan menghilang, petugas melakukan penyisiran di sekitar Perairan Selat Sunda dan ditemukan jenazah Santaf di sekitar pantai Pulau Ular, Selasa (27/9) sore.
"Petugas langsung mengevakuasi mayat Santaf untuk dilarikan ke rumah sakit Cilegon," kata Noman.
Saat ini, jenazah Santaf sudah diambil oleh keluarga untuk dimakamkan di kampung halaman dan tidak dilakukan autopsi. (rdk/rdk)