Dalam keputusannya, Majelis Hakim Konstitusi yang diketuai Arief Hidayat menyatakan, Pasal 82 ayat 1 huruf d UU Nomor 8 Tahun 1981 bertentangan dengan UUD 1945.
"Perkara praperadilan dinyatakan gugur pada saat telah digelar sidang pertama terhadap perkara pokok atas nama terdakwa atau pemohon praperadilan. Menurut Mahkamah, penegasan inilah yang sebenarnya sesuai dengan hakikat praperadilan dan sesuai pula dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 82 ayat 1 huruf d UU 8 tahun 1981," kata Arief.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasal 82 ayat 1 huruf d KUHAP itu berbunyi, "Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh pengadilan negeri sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur."
Lihat juga:Bupati Morotai Divonis Empat Tahun Penjara |
Selain menerima uji materi Pasal 82 ayat 1, MK menolak permintaan lain yang diajukan Rusli yaitu uji materi Pasal 50 ayat 2 dan 3 KUHAP, Pasal 137 dan Pasal 143 ayat 1 KUHAP, serta Pasal 52 ayat 1 dan 2 Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi.
Lihat juga:Hakim Tolak Praperadilan Irman Gusman |
"Ketentuan tersebut dapat diterima sepanjang dimaknai sebelum ada proses praperadilan," kata kuasa hukum Rusli, Achmad Rifai, dalam permohonannya.
Atas putusan MK hari ini, maka gugatan praperadilan tak dapat digugurkan jika belum ada sidang perdana yang dilakukan terhadap perkara pokok. Gugatan gugur setelah sidang perdana perkara pokok digelar. (sur/rdk)