Melansir situs NU Online, As'ad disebut mewarisi darah Sunan Ampel dan Sunan Kudus dari kedua orangtuanya. Lahir di Mekkah, Arab Saudi, tahun 1897, As'ad merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Situbondo, Jawa Timur.
Kementerian Sekretaris Negara menyebut As'ad sebagai ulama besar NU. Ia masuk daftar tokoh yang menginisiasi pendirian NU, salah satu organisasi Islam dengan jumlah anggota terbesar di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di kedua front pertempuran, Gedangan dan Jembatan Merah, menurut beberapa informan, Kiai As'ad sendiri yang memimpin. Bahkan mereka mengaku dikirim ke daerah itu atas perintah Kiai As'ad," tulis Syamsul.
Lihat juga:Soeharto Ditolak Jadi Pahlawan Nasional |
"Di mata santri, dia sudah menjadi pahlawan sejak lama sehingga seluruh aspek dari dirinya menjadi teladan bagi kami," ujar Ikatan Santri Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Munif Shaleh, Rabu kemarin.
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf berkata, gelar pahlawan nasional untuk As'ad sebenarnya tidak akan berarti apapun bagi keluarga maupun Ponpes Salafiyah Syafi'iyah. "Tapi gelar itu penting bagi bangsa Indonesia," tuturnya.
Setelah Presiden Joko Widodo meneken Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016, perjuangan As'ad paripurna. Ia meraih pengakuan yang lebih dulu diterima pendahulunya di NU: Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, dan Idham Chalid.