Kuasa hukum pemohon, Hendrayana mengatakan, pemohon merasa dirugikan dengan berlakunya Pasal 4 huruf g, Pasal 14, dan pasal 16 ayat 1 UU BPJS. Pasal 4 huruf g menyatakan, penyelenggaraan BPJS mendasarkan pada prinsip kepesertaan yang bersifat wajib pada setiap orang.
"Frasa 'setiap orang wajib menjadi peserta program jaminan sosial' melalui iuran ini harus dikesampingkan. Mengingat pelayanan kesehatan dan publik adalah hak setiap orang," ujar Hendrayana di Gedung MK, Senin (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasal 16 ayat 1 menyatakan, setiap orang selain pemberi kerja, pekerja, dan penerima bantuan iuran juga wajib mendaftarkan diri dan anggota keluarganya sebagai peserta BPJS. Ketentuan tersebut dinilai membebankan warga lantaran bersifat memaksa.
Hendrayana mengatakan, seluruh pembiayaan pelayanan di Gowa telah ditanggung pemerintah kabupaten dengan sistem tebusan pada puskesmas dan pelayanan kesehatan lain yang menjadi rujukan rumah sakit.
Ia berpendapat, keikutsertaan seseorang untuk menjadi peserta BPJS adalah kebebasan atas hak untuk menentukan pilihan. Sementara ketentuan yang mewajibkan peserta dalam UU BPJS dinilai merugikan kewenangan pemohon yang telah membangun sistem dan menjalankan program pelayanan kesehatan gratis.
Ketentuan dalam pasal itu juga dianggap bertentangan dengan kewenangan pemohon sebagai kepala daerah untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya.
Hal ini telah tertuang dalam ketentuan dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, khususnya dalam pelayanan kesehatan masyarakat Gowa.
Ketentuan tersebut juga dianggap bertentangan dengan Pasal 34 ayat 3 UUD 1945 yang menyebutkan, negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas peayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum.
Menanggapi permohonan itu, Ketua Hakim Konstitusi Suhartoyo meminta pemohon membandingkan dengan uji materi serupa yang pernah diputus di MK tahun 2015. Ketentuan yang diuji pun sama yakni Pasal 4 huruf g UU BPJS.
Dalam uji materi yang diajukan seorang karyawan swasta saat itu, MK memutuskan menolak karena permohonannya dianggap tidak beralasan menurut hukum.
"Coba dibandingkan dengan putusan MK yang sudah pernah. Kalau punya pemahaman yang berbeda atau punya kekhususan, silakan diajukan," ucap hakim Suhartoyo.
Sementara itu, anggota hakim konstitusi Aswanto meminta pada pemohon menyertakan keterlibatan DPRD untuk memperjelas legal standing dalam uji materi ini. Hakim Aswanto menilai pengelolaan pemerintahan daerah tidak hanya menjadi kewenangan kepala daerah, tapi juga DPRD.
"Soal permohonan ini perlu jadi catatan karena kalau itu urusan pemerintah daerah, harus dua pihak untuk diberi legal standing yakni kepala daerah dan DPRD," terangnya. (rdk)