BNPB Sebut Banjir di Bima Tak Berpotensi Parah

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Kamis, 22/12/2016 18:27 WIB
BNPB Sebut Banjir di Bima Tak Berpotensi Parah Gubernur NTB, M Zainul Majdi (kanan) meninjau lokasi banjir Kelurahan Kodo, Rasana'e Timur, Kota Bima, NTB, Kamis (22/12). (ANTARA FOTO/ Humas Pemprov NTB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei menyampaikan, bencana banjir di Bima, Nusa Tenggara Barat, saat ini mulai surut. Dia mengatakan, kondisi banjir tidak berpotensi akan bertambah parah.

"Situasi sudah dikendalikan pemerintah daerah, dan kondisi juga membaik," kata Willem di Gedung BNPB, Jakarta, seperti dikutip Antara, Kamis (22/12).

Willem mengatakan banjir usai hujan deras dalam beberapa hari terakhir ini terjadi di tiga wilayah, yaitu Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Sumbawa. Ketinggian air bahkan mencapai tiga meter.


"Kejadian bencana banjir ini cukup besar akibat hujan ekstrem. Menurut laporan, sekarang listrik sebagian telah menyala, juga saluran telepon," ujarnya.

Pihaknya telah melakukan pendataan terkait dampak bencana banjir tersebut. Pendataan itu melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah daerah setempat.

"Kami masih melakukan pendataan kerusakan rumah, infrastruktur, dan korban," kata Willem.

Dia mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dukungan logistik untuk disalurkan kepada masyarakat yang terkena bencana. Kebutuhan mendesak saat ini adalah perahu karet, permakanan, air bersih, selimut, obat-obatan, genset, dan tenda.

Banjir Terbesar

Dia mengatakan, selama ini BNPB terus melakukan komunikasi dengan BPBD Provinsi NTB untuk mengambil langkah-langkah penanganan bencana.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut banjir kali ini merupakan salah satu banjir yang terbesar di Bima. Meski demikian, sebelumnya juga pernah terjadi bencana serupa.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), siklon tropis Yvette diprediksi masih berada di Samudera Hindia sekitar 590 km sebelah selatan Denpasar dengan arah dan kecepatan gerak Timur Laut dan kekuatan 85 kilometer/jam (45 knot).

Dia menjelaskan, siklon tersebut menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Selain hujan deras yang mengguyur belakangan hari, banjir di Bima juga disebabkan oleh kondisi wilayah yang berada pada topografi cekungan.

"Kota Bima memang cekung dan daerah risiko tinggi banjir dengan 15.000 kepala keluarga tinggal di daerah tersebut," ucap Sutopo. (pmg/asa)