Lamongan, Penelur 'Pejihad' JI hingga ISIS

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Selasa, 17/01/2017 14:45 WIB
Pondok pesantren Al Islam terkenal karena melahirkan bomber Bali 2002. Jaringan alumni pesantren terkait dengan kelompok Jamaah Islamiyah dan juga ISIS. Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas, pelaku bom Bali 2002 yang dieksekusi mati. (REUTERS/Supri)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Lihat rumah itu? Yang pintunya warna pink? Itu rumah pelaku teror Poso."

Pria bernama Kharis Hadirin menunjuk sebuah rumah di Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan, Jawa Timur yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya.

Rumah yang dia tunjukkan adalah kediaman Zainul Arifin alias Arif Petak, pelaku bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Poso, Sulawesi Tengah, 2013 silam.

Ketika itu, malam di awal Januari 2017, Kharis menemani CNNIndonesia.com mengelilingi Lamongan, sebuah kota yang terkenal sebagai tanah kelahiran trio bomber Bali 2002 yakni Amrozi, Ali Gufron dan Ali Imron.

Kami juga hendak menuju lokasi pondok pesantren Al Islam, yang didirikan oleh keluarga kakak beradik bomber Bali.

Kharis adalah salah satu alumni pesantren tersebut. Dia masuk sejak pertengahan Juni 2004 dan pada jenjang pendidikan I'dadi kelas 1, setara SMA.

Sepanjang perjalanan selama kurang lebih 30 menit, dia kembali menunjuk beberapa tempat yang diyakini digunakan kelompok radikal untuk menyebarkan pahamnya.

"Yang di sana, sekeluarga sudah berangkat bergabung dengan ISIS di Suriah. Yang di sana juga," ujar Kharis, sambil terus menunjuk ke beberapa titik yang tidak spesifik di sekitar rumahnya itu. "Di sini banyak."

"Nah yang ini dulu digunakan oleh ISIS," ujarnya menunjuk salah satu musola.

Al Islam berlokasi di Desa Tenggulun, Solokuro. Di desa tempat tinggal tiga bersaudara pelaku bom Bali yang juga lokasi penangkapan Amrozi .

Setelah peristiwa Bom Bali, jejak radikalisme tak hilang di pesantren itu.
Lamongan, Penelur 'Pejihad' JI hingga ISISBom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang. (AFP PHOTO / DARMA)
Salah seorang mantan pengajar pesantren itu, Siswanto tewas setelah bergabung dengan ISIS di Suriah. Istri Siswanto yang selamat, dideportasi dari Turki, pada 2015 lalu.

Siswanto adalah salah satu tokoh penting di Lamongan. Alumni Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Solo ini menjadi pengajar di pesantren dan bergabung dengan JI pada 1993.

Pada 2000 silam, Siswanto pergi ke Poso untuk mendukung dakwah JI sebelum pindah ke Magetan dan kembali ke Lamongan, enam tahun setelahnya.

Tak hanya Siswanto, bahkan santri lulusan Al-Islam menjadi salah satu warga Indonesia pertama yang tewas di Suriah karena membela ISIS. Dia adalah Wildan Mukhollad, pelaku bom bunuh diri Februari 2014.

Muhammad Chozin, ketua yayasan sekaligus penanggung jawab Al-Islam, membenarkan alumni-alumni pesantrennya ada yang berangkat ke negara konflik tersebut.

"Saya jujur saja, alumni saya ada yang di sana," ujarnya.

'Pengantin' asal Lamongan


Chozin tampil sederhana dan murah senyum. Kakak dari tiga pelaku bom Bali ini sesekali tertawa saat menjelaskan tentang pesantren yang dia dirikan.

Rumah Chozin berada tidak jauh dari pondok dan kantor desa. Kediamannya tampak sederhana, seperti rumah-rumah lain di sekitar.

"Iya, ini asli Payaman sini," kata Chozin merujuk pada Wildan, sambil menunjuk ke arah desa yang ada di sebelah kanan atau arah utara rumahnya. Desa itu hanya berjarak 3 kilometer dari sana.

Chozin tak memberikan informasi detail mengenai asal usul Wildan. “Asli Payaman,” kata Chozin menunjuk desa yang berjarak tiga kilometer dari rumahnya.

Chozin hanya mengatakan bahwa saat bergabung dengan ISIS, Wildan sudah tidak menjadi murid pesantrennya.

Ditemui secara terpisah di kantor desa, Kepala Desa Tenggulun Abdul Soleh mengatakan warganya memang sangat mudah diincar oleh ISIS yang menjanjikan imbalan uang.

Namun, dia yakin sebagian besar masyarakat tidak tertarik karena berbeda pandangan soal agama.

"Kalau di sini memang rata-rata jadi sasaran seperti itu, karena ekonomi lemah. Tapi ujung-ujungnya ke sana bukan cari uang tapi ya korban nyawa. Tenggulun insya Allah tidak," ujarnya.
Sementara itu, Kharis menyatakan sempat mengenal Wildan. Dia dikenal sebagai pribadi yang baik dan cukup berprestasi selama belajar di Al-Islam. Selain itu, dia pernah menjadi juara umum dengan nilai rata-rata tertinggi.

Hal ini menjadi perhatian serius pesantren. Karena itu, dia disekolahkan di Timur Tengah dan pindah ke Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Menurut Kharis, nasib Wildan yang berakhir sebagai pelaku bom bunuh diri tidak terlepas dari pengaruh pesantren.

"Sejak awal belajar, ia sudah diperkenalkan tentang kewajiban melakukan jihad bagi seorang muslim. Selain itu, pengaruh orang tua juga menjadi alasan," ujarnya.

Wildan memandang langkah itu sebagai bukti bakti kepada orang tua. Aksi dia tempuh merujuk pada salah satu hadits yang menyebut ada keistimewaan berupa syafaat kepada 70 anggota keluarga jika seseorang rela berjihad, kata Kharis.

"Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh Wildan tidaklah benar sebab banyak cara lain yang bisa dilakukan sebagai pengabdian kepada orang tua. Namun bagi Wildan, ini adalah jalan terbaik yang bisa ia persembahkan," tuturnya.

Wildan dan Siswanto sudah terlanjur masuk ke dalam lingkaran radikal. Namun, masalah di Lamongan tidak hanya sekadar soal bom Bali dan ISIS. Selain kedua orang itu, ada pula nama Sibghotullah alias Sibgho dan Arif Budi Setyawan alias Arif Tuban.

Mengutip laporan Institute for Policy Analysis of Conflict atau IPAC soal Jaringan Lamongan, kota ini dikenal sebagai wilayah dengan sekolah-sekolah agama penelur tokoh teror.


Analisis yang dilakukan terhadap hubungan tokoh-tokoh di Lamongan menunjukkan "jaringan alumni pesantren Al Islam dan sekolah lainnya pernah berhubungan dengan organisasi Jamaah Islamiyah."

"Meski tokoh-tokoh ini bukan--atau dalam beberapa kasus, bukan lagi--anggota JI, sekolah-sekolah ini tetap menjadi komponen penting untuk komunitas ekstremis setelah JI sendiri sudah berhenti, setidaknya sementara, melakukan kekerasan," bunyi laporan tersebut. 

Selain kedua orang itu, ada pula nama Sibghotullah alias Sibgho dan Arif Budi Setyawan alias Arif Tuban.
Lamongan, Penelur 'Pejihad' JI hingga ISISMuhammad Chozin. (CNN Indonesia/Rinaldy Sofwan Fakhrana)
Jaringan Lamongan, Poso dan Suriah

Siswanto merupakan salah satu pendukung ISIS pertama di Indonesia, yang mendapat pengaruh dari pemimpin de facto ISIS Indonesia, Aman Abdurahman.

Ketika dikejar polisi, Siswanto melarikan diri ke Bogor, dilindungi anak buah Aman.

Siswanto juga berhubungan dengan Reza Matondang alias Abu Sofi yang pada pertengahan 2013 sudah terkait dengan jaringan Suriah. Bersamanya, Siswanto menjadi bagian komite seleksi orang-orang yang hendak berangkat ke ISIS hingga 2014.

Sementara Sibgho, berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, adalah ipar Siswanto yang ditangkap di Malaysia karena hendak bergabung dengan ISIS di Suriah akhir 2014 lalu dan pernah berhubungan dengan Santoso.

Mantan santri Al-Islam ini juga terbukti bersalah terlibat pelatihan militer di Aceh. Sementara Arif Tuban adalah alumni Al-Islam yang membantu mengembangkan jejaring kelompok Poso.

Jaringan Lamongan memiliki mobilitas yang tinggi. Mereka memiliki jaringan meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan Selatan, sebelum berujung ke Suriah.

Deretan tokoh teroris lain yang terkait dengan Lamongan, di antaranya Hendro, Mohammad Hidayat dan Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal.

Direktur IPAC Sidney Jones mengatakan untuk memahami pendukung ISIS di Indonesia, perlu melihat kelompok yang mendukung Santoso di Poso. Sebanyak 100 pria telah melalui pelatihan militer kelompok Santoso di Poso sejak akhir 2010 silam.

Laporan organisasi pimpinan Jones itu menyebut Al-Islam dan pondok pesantren lain di Lamongan terafiliasi JI sehingga berperan penting dalam komunitas "ekstremis" yang terkait dengan Poso dan Suriah.

Chozin menampik pesantrennya terkait dengan jaringan teroris, termasuk ISIS. Dia juga mengatakan terorisme perlu diperangi "karena itu menakut-nakuti, merusak."

Meski begitu, dia mengatakan radikalisme adalah sesuatu yang bisa jadi berdampak positif. Dia menegaskan, radikalisme tidak selalu berujung pada terorisme.
Soal jihad, yang kerap digunakan sebagai alasan aksi teror, menurut Chozin terbagi ke dalam dua bentuk, yakni lewat fisik dan lisan. Dalam hal ini, pesantren Al-Islam belum sanggup melaksanakan jihad dengan fisik.

Ketika ditanya apakah jihad dengan fisik yang dia maksud adalah berperang, Chozin menjawab "bisa jadi."

"Tapi lagi-lagi kita belum punya kekuatan," ujarnya.

“Apakah artinya ketika sudah ada kekuatan yang cukup maka jihad harus dilakukan? “ tanya CNNIndonesia.com

"Iya, makanya dalam ayat itu ada 'persiapkanlah jihad sesuai dengan kemampuanmu'. Dalam Al-Quran kan begitu," kata Chozin.

Saat ini, kata Chozin, pondok pesantrennya "masih jauh" dari tahapan persiapan jihad. Namun, soal pilihan santrinya, bisa menjadi cerita lain.

"Saya tidak bisa menjamin, ketika mereka keluar, terus terinspirasi, atau terkontaminasi yang lain, sehingga dalam waktu singkat kemudian keinginannya langsung jihad," kata Chozin.

Dia pun tidak berniat melarang santri yang akan berkorban nyawa demi agama.