Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bicara dengan nada tinggi soal helikopter itu dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, Senin (6/2) kemarin.
"TNI sama sekali tidak tahu," ujar Gatot. Dalam kalimat bersayap ia berkata, hiruk-pikuk pembelian helikopter AW-101 harus menjadi pelajaran bagi perwira tinggi militer yang nantinya akan duduk di pucuk pimpinan TNI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai rapat tertutup dengan komisi pertahanan, Gatot kembali menyatakan ketidaktahuannya tentang proses pengadaan helikopter AW-101. "Saya memang tidak tahu," ucapnya.
"Kami dari dulu bilang tidak," ujarnya. Ryamizard berujar, proses pengadaan helikopter itu sedang dikaji ulang. Untuk memenuhi kebutuhan helikopter kepresidenan dan angkut berat TNI AU, Kemhan merekomendasikan produk lokal.
Helikopter yang dimaksud Ryamizard adalah heli super puma yang dibuat PT Dirgantara (Persero) di bawah lisensi pabrikan Perancis, Eurocopter.
Merujuk keterangan Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto, dua helikopter lokal itu adalah seri L2 Super Puma untuk keperluan aviasi sipil kepresidenan dan EC 725 Cougar untuk alat angkut militer.
Basarnas merupakan lembaga negara yang telah lebih dulu membeli helikopter AgustaWestland dari pabrikan Italia, Leonardo. Mereka menggunakan heli itu untuk keperluan SAR. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Saat dikonfirmasi tentang proses pengadaan alutsista, Gatot secara singkat menyebut peraturan menteri pertahanan tentang sistem perencanaan pembangunan pertahanan negara. Menurutnya, aturan itu mengubah pemegang kewenangan dan tahapan pengadaan alutsista.
Anggota Komisi I Andreas Hugo Pareira menyebut peraturan tersebut membuat proses pengadaan menjadi sentralistik. Ia mengatakan, Kemhan belum memaparkan alasan di balik sistem tersebut kepada DPR.
"Anggaran memang bottom-up, tapi keputusan sangat sentralistik. Itu yang menyebabkan TNI dan Menhan tidak terlalu sinkron," ucapnya.
"Saling lempar bola. Aturannya kan harus dari bawah, tapi dia bilang tidak mengusulkan. Yang di atas juga bilang enggak tahu, terus siapa yang memesan," kata Andreas.
Adapun, Ryamizard berkata, pembelian alat pertahanan harus selalu melalui koordinasi antara Kemhan dan masing-masing matra.
"Kamu mau apa? Kamu mau apa? Kaji bersama angkatan laut, darat, dan udara. Kemhan dan TNI jadi satu grup membahas, bukan TNI saja, bukan Kemhan saja," tutur Ryamizard.
"Kami pelan-pelan, yang penting tim tahu masalahnya karena barangnya sudah ada di Indonesia," ujarnya di Gedung DPR, kemarin.
Tim investigasi tersebut berjumlah 10 hingga 12 perwira TNI AU. Mereka wajib meneliti proses perencanaan, pengadaan, dan menelisik pengiriman helikopter berharga senilai US$55 juta yang telah tiba di Halim itu.
"Nanti akan ada kesimpulan dari tim investigasi yang saya sampaikan. Saya sengaja menyerahkan semuanya kepada mereka, tidak ada intervensi," kata Hadi.
