Bergeliatnya politik Pilgub Jabar ditandai dengan diusungnya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil oleh partai Nasional Demokrat sebagai bakal calon Gubernur Jabar periode 2018-2023.
Pasca dukungan NasDem, sejumlah partai juga bergerak menentukan pilihan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), misalnya, menyebut tengah mendekati sejumlah calon potensial untuk diusung di Pilgub Jabar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami bangun komunikasi yang baik dengan sejumlah calon. Juga sudah bangun komunikasi dengan Pak Ridwan Kamil," ujar Hasto beberapa waktu lalu.
Lihat juga:Ridwan Kamil Jelaskan Alasan Terima Nasdem |
Menyikapi dinamika Pilgub Jabar tersebut, peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai hal itu suatu kewajaran. Sebab, kata Siti, Jabar memiliki arti sangat strategis, yakni sebagai pijakan penting menuju Pemilu Presiden 2019.
Siti mengatakan banyaknya pemilih di kawasan tersebut pada akhirnya membuat parpol harus sigap mengamankan Jawa Barat. Atau, dengan kata lain, manuver politik dari sejumlah partai dalam beberapa hari terakhir ini dapat dilihat sebagai langkah awal untuk mengamankan Pilpres 2019.
“Jabar ini adalah lumbung suara. Artinya sangat seksi di mata parpol,” ujar Siti kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/3).
Kartu As Pilpres 2019
Siti menuturkan, kemenangan calon gubernur di Pilgub Jabar tahun depan bisa dijadikan prediksi awal untuk menentukan partai mana yang akan berkuasa ke depan. Bahkan, kata Siti, kemenangan Pilpres 2019 bisa semakin terlihat jika parpol pemenang Pilgub Jabar juga berhasil memenangkan Pilgub Jawa Timur.
Pilgub Jabar dan Jatim dilaksanakan serentak pada 2018. Jatim memiliki jumlah pemilih terbanyak kedua setelah Jabar. Berdasarkan jumlah suara Pilpres 2014 yang dirilis KPU, Jatim memiliki 21,94 juta pemilih.
“Jadi kalau menang di Jabar dan Jatim artinya sudah mengantongi kartu (kemenangan). Inilah yang membuat kedua wilayah itu sebagai penentu (Pilpres),” ujarnya.
Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ahmad Heryawan (kedua kanan), bersama Wagub Deddy Mizwar (kanan) dan Walikota Bandung, Ridwan Kamil (kedua kiri). (Antara Foto/Novrian Arbi) |
Akan tetapi, ia menambahkan, sosok petahana Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, tak bisa dipandang sebelah mata. Selain itu belum ada calon dilihat Siti berpeluang merebut kursi Jawa Barat 1.
Siti menyebut Deddy bisa menjadi pesaing terbesar Emil jika maju dalam Pilgub Jabar karena berlatar belakang artis. “Calon potensial belum muncul yang lain. Mirip dengan Jakarta, banyak nama yang muncul tapi berguguran. Tapi, ada asumsi (pemilih) Jabar ini senang dengan calon-calon yang artis,” ujarnya.
Meski demikian Siti memperkirakan dinamika politik di Jabar tidak akan sekeras di Jakarta. Permasalahan Pilgub Jabar hanya akan muncul jika calon gubernur melakukan manuver politik yang tidak sesuai dengan aturan hukum.
“Situasi Pilgub Jabar tidak akan sama seperti di Jakarta. Lain kalau calonnya berulah seperti bikin sensasi-sensasi politik. Tapi, kalau tidak ada akan sama seperti Pilgub dahulu,” ujar Siti.
Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ahmad Heryawan (kedua kanan), bersama Wagub Deddy Mizwar (kanan) dan Walikota Bandung, Ridwan Kamil (kedua kiri). (Antara Foto/Novrian Arbi)