Telat, Susi Kejar Pertemuan dengan Hollande Naik Motor Patwal

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Rabu, 29/03/2017 11:50 WIB
Telat, Susi Kejar Pertemuan dengan Hollande Naik Motor Patwal Menteri Susi Pudjiastuti saat menumpang mobil truk kepolisian. (Screenshoot via Twitter/@kkpgoid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Presiden Perancis Francois Hollande di Istana Merdeka. Namun, ada hal menarik yang terlihat di sisi lain Istana Merdeka.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat telat tiba di Kompleks Istana Kepresidenan. Acara penyambutan dimulai pukul 11.00 WIB. Sementara itu, ia tiba sekitar pukul 11.20 WIB.

Susi tiba di gerbang Istana Negara dengan menggunakan motor patroli pengawal (Patwal). Hal itu dikarenakan kemacetan sekitar Jalan Veteran III dan Jalan H. Juanda.
Berdasarkan pantauan, memang ada penutupan jalan di sekitar Veteran III.


"Macet. Di sini," kata Susi di pintu pengamanan gerbang Istana Negara, Rabu (29/3). Dia pun terlihat mengenakan blazer saat melewati pintu pengamanan. 

Awalnya, Susi berencana masuk ke Istana Merdeka menggunakan mobil golf (boogie). Namun, ternyata kendaraan sama sekali tak boleh melintas karena pertemuan Jokowi dan Hollande sedang berlangsung.

Susi akhirnya berjalan kaki menuju tempat pertemuan, setelah dijemput seorang protokol.
Presiden Hollande melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, Rabu (29/3), yang merupakan bagian dari rangkaian lawatannya ke Asia Tenggara.

Kunjungan tersebut adalah momen bersejarah karena menjadi yang pertama dalam 30 tahun, setelah Presiden François Mitterrand melakukan lawatan pada tahun 1986.

Presiden Hollande akan melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Kemudian, jadwal berikutnya adalah pertemuan konsultasi bilateral dan jamuan makan siang resmi.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Presiden Hollande didampingi Menteri Pertahanan, Jean-Yves Le Drian serta Menteri Muda urusan Industri, Digital dan Inovasi, Christophe Sirugue. Rombongan juga termasuk belasan anggota parlemen dan sekitar 50 pemimpin perusahaan, mulai dari perusahaan besar, menengah dan kecil.