Hal ini disampaikan Novel saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (30/3).
"Saksi menulis keterangan penting dan itu menjadi acuan kami. Saksi menulis tangan keterangan itu termasuk soal bagi-uang uang dan rinciannya," ujar Novel saat memberikan keterangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pertemukan saksi dengan saksi lain dan terdapat kesesuaian keterangan," kata Novel.
"Untuk pembagian pada anggota penyerahannya dikumpul ke kapoksi, yang jelas pembagiannya tidak satu per satu. Jumlahnya berbeda antara ketua, wakil ketua, kapoksi, dan anggota DPR," tutur Novel.
Novel pun sempat mengingatkan agar Miryam tak khawatir terkait pengembalian uang tersebut. "Saksi bilang 'Kalau saya kembalikan, habis teman-teman saya di DPR'. Saksi tidak mau mengembalikan karena menunggu teman-temannya dulu agar aman," ucapnya.
Novel mengatakan, Miryam juga sempat mengubah keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) soal jumlah uang yang diterima anggota DPR. Menurut Novel, Miryam mengubah angka itu setelah mengkonfirmasi pada anggota DPR lainnya.
"Saya lupa jumlahnya tapi saksi sempat mengubah keterangan soal jumlah uang yang diterima anggota DPR. Saya sudah bilang waktu itu, jangan konfirmasi ke pihak lain karena akan mengganggu proses penyidikan," terang Novel.
Dalam kesaksiannya, Novel juga menyebut, Miryam mendapat ancaman dari enam orang politikus di DPR.
"Ada enam, pertama Bambang Soesatyo, Aziz Syamsudin, Desmond J Mahesa, Masinton Pasaribu, Syarifudin Suding. Dan satu lagi saya lupa namanya," kata Novel saat bersaksi.