Pernyataan diutarakan menanggapi rencana Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam memberi pengawalan kepada penyidik KPK pasca insiden penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan.
"Kenapa kalau ada penyidik KPK diserang orang, tentara pun menawarkan diri untuk melindungi. Kenapa DPR tidak juga mendapat persepsi seperti itu?" tutur Fahri di gedung DPR, Jakarta (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih dicegah, Fahri menyebut intitusi atau kelembagaan di Indonesia seharusnya bisa saling menghargai.
Sebelumnya, pasca penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras, pimpinan aparat Polri dan TNI menawarkan pengawalan kepada penyidik KPK.
"Memang saya sarankan dikawal. Tapi saya serahkan pada ketua KPK. Kalau ketua KPK meminta dilakukan pengawalan, maka akan kita lakukan pengawalan," kata Tito di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Selasa (11/4).
"Saya berikan pasukan yang terbaik. Dan saya tidak akan menyebutkan siapa orangnya. Kami beri pengawalan tidak terlihat," ujar Gatot di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, seperti dikutip detik.com, Rabu (12/4).