Anastasia Ika
Sempat bekerja sebagai jurnalis di beberapa kantor media massa. Kini menjadi penulis lepas, dengan mengkhususkan pekerjaan pada penulisan feature dan in-depth.

Bermandikan Akal Budi pada Celah Musim Kering

Anastasia Ika, CNN Indonesia | Selasa, 02/05/2017 17:30 WIB
Isu pendidikan di Pulau Lembata berputar-putar pada kondisi fisik sekolah, sarana pendukung, gaji guru. Belum lagi jalanan dan transportasi umum. Ilustrasi. Pelajar melintas di jembatan gantung yang rusak. (Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sabtu pagi. Ucapan selamat pagi menjadi lebih berwarna dalam grup-grup aplikasi percakapan WhatsApp. Paling tidak, itu yang tergambar pada layar ponsel saya.

Ada yang mengirim foto-foto perjalanan disertai keterangan “Selamat pagi dari Labuan Bajo” atau “Dapat salam dari Matahari di atas Bromo,” misalnya. Sabtu pagi yang lain.

Seorang anggota grup WhatsApp membagi foto-foto suatu bidang. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran kira-kira 5x4 meter. Atapnya berpenutup lembar-lembar daun rumbia. Bilah-bilah bambu menutup keempat sisi bangunan. Tak terlalu rapat, memudahkan siapapun mengintip ke dalam bidang.


Lantainya tak berubin, apalagi berkeramik. Hanya cokelat tanah yang bergunduk-gunduk. Di satu sisi ruangan, tampak sebuah papan tulis dengan kaki-kaki dari potongan kayu. Pada papan tulis itu tertulis: “1. Mengenal Bagian Tumbuhan dan Hewan.”

Iya, ini bangunan sekolah, teman-teman. Iya, ini tempat anak-anak, generasi penerus kita, belajar. Dalam rangkaian foto, bangunan sekolah itu tampak terang. Begitu terang. Menandakan lokasinya di suatu tempat yang banyak tercurah sinar Matahari.

Tempat itu bernama Lembata, pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya sempat dua kali berkunjung ke Pulau Lembata. Namun tak sekalipun dari dua persinggahan itu sampai ke sekolah berdinding bilah-bilah bambu. Awalnya saya mengira sekolah itu berada di daerah Atakowa, Kecamatan Lebatukan, Lembata bagian tengah.

“Ini di Atakowa, ya?,” tanya saya kepada teman pengunggah foto.

“Bukan,” katanya menjawab.

Ternyata bangunan Sekolah Dasar (SD) Filial Lewogroma, Kecamatan Atadei, Lembata bagian tenggara. Sekolah filial disebut juga kelas jauh. Sekolah filial dibangun lantaran sekolah induk yang terlalu jauh.
Bermandikan Akal Budi pada Celah Musim KeringIlustrasi. Seorang anak sekolah Madrasah Ibtidaiyah berusaha menyeberangi sungai di Desa Mangepong, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Rabu (10/2). (ANTARA FOTO/Jojon)
Dalam kasus SD Filial Lewogroma, sekolah induk berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Desa Lewogroma. Sudah jauh, medannya berat dijalani anak-anak berusia 6-7 tahun atau kelas 1-2 SD.

SD Negeri (SDN) Atakowa, teman saya melanjutkan, “malah sudah roboh akibat badai.” Jawaban disertai foto salah satu ruangan SDN Atakowa, yang tinggal bentuk atap sengnya saja.

Dua ruangan lain, syukurlah, masih berdiri tegak. Lalu, anak-anak yang kehilangan kelas untuk sementara belajar di mana?

Teman saya kembali menjawab, juga disertai foto: “Di selasar depan kelas [yang masih utuh].” Sampai situ, lalu berhenti.

Menurut data Satuan Pendidikan (Sekolah) per Provinsi untuk Provinsi NTT yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tercatat 102 SD Negeri berada di Kabupaten Lembata. Sebanyak 75 lainnya berstatus SD Swasta.

Ya. Banyak. Tapi bukan itu perkaranya. Masalah pendidikan di Pulau Lembata terus saja berputar-putar pada ihwal kondisi fisik bangunan sekolah, ketersediaan sarana pendukung serta gaji guru. Belum lagi perihal jalanan dan ketersediaan transportasi umum.

Itu, masih ditambah pendapatan orang tua, prasarana dalam keseharian—misalnya kebutuhan akan air bersih dan listrik. Akhirnya keluarga tersangkut pada satu desakan: anak mesti putus sekolah.

Tak Keruh Laut oleh Ikan, Tak Runtuh Gunung oleh Kabut

Pulau Lembata dikelilingi kumpulan air yang luas. Sebelah utara berhadap-hadapan dengan Laut Flores. Bagian selatan dipagari Laut Sawu. Selat Alor berada di sebelah timur. Bagian barat dibatasi Selat Lamakera.

Pulau yang bermandikan air asin, tapi surut jika menyangkut air bersih. Di Desa Lerek, Kecamatan Atadei, mata air terdekat berjarak sekitar 1 kilometer dari desa. Debitnya mulai menipis lantaran curah hujan sangat rendah.

Jika ingin pakaian bisa selekas mungkin dicuci, warga mesti pergi ke mata air lain. Yang ini, jaraknya sekitar 3 kilometer dari Desa Lerek. Lantaran suami bekerja dari pagi, seorang istri lalu mengajak anak mereka mengangsu atau membawa pakaian kotor ke mata air. Sampai rumah, sudah terlalu siang. Anak jadi tidak berangkat ke sekolah.

Sekarang, mari kita tengok pemikiran si anak: pergi ke mata air, sudah jadi beban sendiri. Lalu mesti buru-buru berjalan kaki ke sekolah nun di sana. Capek. Lebih baik tidur saja. Nanti bangun, bermain di kebun.

Persoalan yang sama juga terjadi bertahun-tahun lampau di beberapa desa dalam wilayah suku Kedang, timur laut Lembata. Warga baru merasakan aliran air bersih pada 2015. Keran utama penyalur air bersih langsung dibuka Bupati Lembata saat itu, Eliaser Yentji Sunur. Warga gembira.

Kini, mereka tak lagi harus mengangsu jauh hingga ke desa-desa tetangga. Anak-anak tak perlu membolos demi memanggul jeriken. Atau, tak perlu khawatir nantinya tak punya seragam bersih.

Usah sedini mungkin bekerja di tanah rantau demi perbaikan pendapatan keluarga, anak-anak Lembata. Usah seawal mungkin mencari uang, supaya keluargamu bisa pindah ke tempat yang lebih baik. Saya membatin.

Tapi, begini. Sejumlah anak muda yang dulu mengalami masa kesusahan air bersih di Kedang telah berusia dewasa, kini. Banyak yang putus sekolah. Bekerja sejak usia dini.

September 2016, saya sempat bertemu beberapa di antaranya. Jalan pendidikan mereka barangkali kandas. Mereka tahu itu. Namun mereka tak berlama-lama merenung diri. Anak-anak muda Kedang berusaha “menebus” kekecewaan pribadi, sekaligus secara berkelompok, melalui jalan yang lain: melestarikan kebudayaan.

Anggota Komunitas Doro Dope, bentukan gagasan mereka, secara intens bertemu tetua-tetua di pelbagai desa di Kedang. Mereka berupaya kembali menggali cerita perjalanan leluhur—doro dope, dalam bahasa setempat—yang minim bukti tertulis.

Mereka mendaki bukit-bukit guna menemukan batu-batu peninggalan sesepuh. Lalu dibandingkan dengan catatan seorang antropolog asing, yang puluhan tahun silam meneliti Kedang. Latar belakang anak-anak itu sangat beragam. Mulai dari perjalanan pendidikan, silsilah hingga kepercayaan. Tapi mereka membaur. Menyatu diri demi meneruskan warisan pendahulu.

Seumpama peribahasa “Tak keruh laut oleh ikan, tak runtuh gunung oleh kabut.” Berbeda-beda tetapi tetap satu. Saat mengetik paragraf di atas, saya jadi teringat kalimat seorang teman. Juga dari grup WhatsApp. Mengakhiri suatu pembahasan, ia menulis, “Mari mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimatnya ditutup dengan emotikon bendera merah dan putih. Bendera Negara Republik Indonesia. (rdk)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK