"Saya minta untuk Transjakarta juga untuk menyiapkan siapa pun, yang masuk halte itu diperiksa, ada metal detector, diperiksa semua," kata Djarot saat meninjau Halte Transjakarta Kampung Melayu, Minggu (28/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djarot menyebut, rencana memasang metal detector ini tengah dibicarakan secara serius oleh jajarannya. Namun, pemasangan metal detector tak semua di Halte Transjakarta, namun di sejumlah halte besar dan strategis.
"CCTV itu sangat efektif ya. Apapun yang terjadi di sini sudah terekam semua sehingga itu kita serahkan kepada pihak kepolisian," tuturnya.
Sementara itu, di tempat yang sama Direktur Utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono menyatakan, saat ini sudah ada sekira 1.500 CCTV di 238 Halte Transjakarta. Dia mengklaim keberadaan CCTV sudah sangat efektif memantau semua hal yang terjadi di setiap halte.
"Operate control room kami itu mempekerjakan sekitar 300 orang. Jadi itu nanti akan lebih fokus untuk memperhatikan setiap CCTV," ujarnya.
Kerja sama dengan Polri
Lebih lanjut, Djarot mengungkapkan perlu adanya kerja sama dengan aparat kepolisian dalam mencegah setiap kejahatan yang terjadi di Halte Transjakarta, termasuk soal serangan bom dari terduga teroris.
Menurut Djarot, bila dilihat dari CCTV ada yang mencurigakan, pihaknya langsung menghubungi Polri.
"Untuk preventif kita amati semuanya. Ini membutuhkan tentu saja kepolisian juga akan terlibat untuk mengamati gerak-gerik orang yang ada terpantau di CCTV yang mencurigakan," tandasnya.
Seperti diketahui, pascaledakan bom bunuh diri pada Rabu (24/5) malam, operasional Halte Transjakarta Kampung Melayu ditutup sementara. Sampai siang ini, halte belum juga dioperasikan lantaran masih dalam perbaikan.
Titik ledakan bom bunuh diri itu pun tak jauh dari Halte Transjakarta Kampung Melayu. Sehingga, tak heran bila kaca-kaca di halte tersebut mengalami kerusakan.