Kepala Subdirektorat IV Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Komisaris Besar Endar Priantoro mengatakan, angka tersebut diperoleh berdasarkan hasil audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi (BPKP) Jawa Barat.
"Dengan kerugian negara berdasarkan perhitungan ahli, mencapai Rp103 miliar," kata Endar dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (6/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahan Tersangka
Endar mengatakan, penahanan Yayat akan dilakukan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya.
"Hari ini, kami melakukan penahanan YAS pada saat kegiatan pejabat pelaksana teknis dan kuasa pengguna anggaran," katanya.
Penyidik Bareskrim memulai penyidikan terhadap kasus dugaan korupsi pembangunan Stadion GBLA pada 2015 silam.
Pembangunan Stadion GLBA dilakukan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung, PT Penta Rekayasa (konsultan perencana), PT Adhi Karya (kontraktor pelaksana pekerjaan), PT Indah Karya (konsultan manajemen kontruksi) dengan nilai proyek sebesar Rp545.535.430.000 pada tahun anggaran 2009 hingga 2013.
Kabareskrim kala itu, Komisaris Jenderal Budi Waseso sempat meninjau lokasi Stadion GBLA beberapa kali. Bahkan, dia juga sempat menyegel dan melarang penggunaan stadion untuk keperluan apa pun.
Namun pada Januari 2016, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan meminta Bareskrim mengizinkan penggunaan stadion untuk Pesta Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat pada September 2016. Stadion GLBA pun akhirnya digunakan untuk PON.