Jargon 'Saya Indonesia, Saya Pancasila' Rawan Disalahgunakan

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Sabtu, 10/06/2017 05:30 WIB
Jargon 'Saya Indonesia, Saya Pancasila' Rawan Disalahgunakan Jargon Saya Indonesia, Saya Pancasila yang Dipopulerkan Pemerintah Dikhawatirkan Menjadi Alat untuk Menyerang Salah Satu Kelompok. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jargon 'Saya Indonesia, Saya Pancasila' yang dipopulerkan pemerintah rawan disalahgunakan. Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Hafid Abbas berpendapat, jargon itu bisa menjadi alat suatu kelompok untuk menyerang kelompok lain.
Menurut Hafid Abbas, seharusnya, jargon yang dipopulerkan harus memuat kata 'kita' dan bukan 'saya'.

"Jadi bukan Pancasila untuk saya dan NKRI untuk saya. Tapi Pancasila untuk kita dan NKRI untuk kita," tutur Hafid di Kamtor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Jumat (9/6).

Jargon yang disuarakan Presiden Joko Widodo bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2017 lalu itu, kata Hafid, mudah sekali digunakan untuk menuduh kelompok lain sebagai kelompok Anti-Pancasila hanya karena berbeda pendapat.


Apalagi, kata Hafid, saat ini masyarakat seperti terbagi menjadi dua kelompok akibat Pemilihan Kepala Daerah DKI 2017, yakni kelompok yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan yang tidak mendukung Ahok.
Hafid mengatakan, jargon yang dibutuhkan adalah jargon yang bisa menyatukan kedua kelompok tersebut. Dan, bukan jargon 'Saya Pancasila, Saya Indonesia.'

"Supaya tidak ada romantisme-romantisme sempit yang ada di dada anak republik ini, bahwasanya Pancasila yang bukan 'saya' dianggap tidak Pancasila," lanjut Hafid.

Selain itu, Hafid mengatakan, Komnas HAM ingin menemui pimpinan lembaga politik, hukum, dan keamanan untuk mencari solusi atas ketegangan yang terjadi di masyarakat.

"Supaya ada langkah-langkah operasional yang kita ambil bersama," kata Abbas.

Kritikan terhadap jargon 'Saya Indonesia, Saya Pancasila' juga pernah dilontarkan Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan.

Menurutnya, jargon yang tepat adalah kalimat 'Kita Pancasila, Kita Indonesia.'

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf) Triawan Munaf menjawab kritik terhadap jargon tersebut.


Triawan secara langsung menjelaskan, 'Saya' digunakan untuk menunjukkan komitmen setiap pribadi masyarakat kepada Indonesia dan Pancasila.

Ia mengutip lagu kebangsaan, Indonesia Raya dan Garuda Pancasila, yang selama ini dinyanyikan masyarakat Indonesia bahkan sedari kecil.

"Garuda Pancasila, kami lah pendukungmu. Enggak begitu kan? Indonesia Raya juga begitu. Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, bukan tanah kita," tegas Triawan.


BACA JUGA