"Jadi bukan Pancasila untuk saya dan NKRI untuk saya. Tapi Pancasila untuk kita dan NKRI untuk kita," tutur Hafid di Kamtor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Jumat (9/6).
Jargon yang disuarakan Presiden Joko Widodo bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2017 lalu itu, kata Hafid, mudah sekali digunakan untuk menuduh kelompok lain sebagai kelompok Anti-Pancasila hanya karena berbeda pendapat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Supaya tidak ada romantisme-romantisme sempit yang ada di dada anak republik ini, bahwasanya Pancasila yang bukan 'saya' dianggap tidak Pancasila," lanjut Hafid.
"Supaya ada langkah-langkah operasional yang kita ambil bersama," kata Abbas.
Kritikan terhadap jargon 'Saya Indonesia, Saya Pancasila' juga pernah dilontarkan Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan.
Menurutnya, jargon yang tepat adalah kalimat 'Kita Pancasila, Kita Indonesia.'
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf) Triawan Munaf menjawab kritik terhadap jargon tersebut.
Triawan secara langsung menjelaskan, 'Saya' digunakan untuk menunjukkan komitmen setiap pribadi masyarakat kepada Indonesia dan Pancasila.
Ia mengutip lagu kebangsaan, Indonesia Raya dan Garuda Pancasila, yang selama ini dinyanyikan masyarakat Indonesia bahkan sedari kecil.
"Garuda Pancasila, kami lah pendukungmu. Enggak begitu kan? Indonesia Raya juga begitu. Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, bukan tanah kita," tegas Triawan.