Kemendikbud dan Kemenag Rembukan Soal Teknis Full Day School

M Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 14/06/2017 17:42 WIB
Kemendikbud dan Kemenag Rembukan Soal Teknis Full Day School Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan berembuk dengan Kementerian Agama untuk membuat petunjuk teknis sekaligus memastikan program lima hari sekolah tidak mematikan kegiatan madrasah diniyah.

Pertemuan dua kementerian itu akan diwakili oleh Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah Kemendikbud dan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag.

"Besok tim teknis akan bertemu untuk siapkan petunjuk teknis tersebut. Mudah-mudahan pekan depan sudah bisa kami lihat dan sebelum tahun ajaran baru sudah bisa kami tetapkan," kata Hamid saat diskusi di Kemendikbud, Jakarta Pusat, Rabu (14/6).
Hamid mengatakan pertemuan itu diadakan setelah ada permintaan dari Kamaruddin. Kamaruddin sempat menghubungi Hamid untuk meminta penjelasan lima hari sekolah.


Menurut Hamid, Kamaruddin khawatir program tersebut akan mematikan kegiatan madrasah diniyah. Padahal, kata Hamid, implementasi lima hari sekolah tidak akan mematikan kegiatan madrasah.

"Beliau anggap semua kegiatan ditarik semua ke sekolah. Beliau khawatir, menurut info beliau, ada 70.000 madrasah dan ada 7 juta siswa akan tutup. Konsepnya bukan mematikan lembaga pendidikan lain, tapi lebih banyak bersinergi," kata Hamid.
Mendikbud Muhadjir Effedny telah berencana menerapkan lima hari sekolah pada tahun ajaran 2017/2018 mendatang. Peraturan itu tertuang dalam Pearturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2016 teng Hari sekolah. Nantinya, proses belajar mengajar di sekolah hanya dilakukan Senin sampai Jumat.

Mendikbud juga akan meningkatkan aspek pendidikan religi atau keberagaman, integritas, masionalisme, kerja keras, dan gotong royong. Semua itu disajikan melalui program pembelajaran delapan jam per hari yang merupakan implementasi dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Sekolah akan menjalin kerja sama dengan lembaga di luar sekolah untuk menunjang peningkatan penyajian kelima aspek tersebut. Lembaga di luar sekolah yang dimaksud misalnya masjid, gereja, pura, sanggar kesenian, hingga pusat olahraga.
Dengan begitu, kata Hamid, kalau siswa sekolah umum masuk madrasah sudah bisa dianggap menerapkan sistem delapan jam sehari. Jam belajar siswa bisa dikonversi dengan kegiatan madrasah.

"Kami sepakati akan buat juknis (petunjuk teknis) bersama tentang sinergi sekolah dengan madrasah diniyah. Termasuk dengan lembaga pendidikan lain," kata Hamid.

Jika draf petunjuk teknis sudah selsesai, Kemendikbud akan mengundang sejumlah organisasi massa Islam agar tidak ada salah persepsi. Ia berharap draft tersebut dapat selesai secepat mungkin.
Ditemui terpisah, Anggota Tim Pengembangan PPK Kemendikbud, Doni Koesoema mengatakan sebelumnya sudah mengadakan pertemuan dengan perwakilan dari universitas. Sejumlah profesor dari Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan dan Universitas Paramadina diundang untuk membahas program lima hari sekolah.

"Saat itu mereka setuju dan tidak menolak, karena konsep kita tidak mematikan. Sudah ada pembahasan (soal madrasah), tapi belum langsung dengan pengelola madrasah," kata Doni.