Cerita Kecil dari Karet Bivak

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia | Jumat, 23/06/2017 19:09 WIB
Cerita Kecil dari Karet Bivak Perawat makam seringkali tak mendapatkan penghasilan pasti, namun pekerjaan itu tetap ditekuni. Ada yang menganggapnya sebagai ibadah. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gunawan tampak lelah usai membersihkan sebuah makam yang terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak. Dia beristirahat sejenak di bawah pohon sembari berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Gunawan telah menekuni pekerjaannya sebagai perawat makam di TPU Karet Bivak selama 30 tahun. Meski awalnya tak pernah berpikir untuk menjadi seorang perawat makam, namun dirinya bersyukur dengan pekerjaan yang ia jalani sekarang.

Pria berusia 50 tahun itu mengungkapkan sebagai perawat makam dirinya tak pernah mendapatkan penghasilan yang pasti. Apalagi, menurutnya, kunjungan ziarah ke makam itu merupakan kegiatan musiman.


"Ya penghasilan enggak tetap lah, bisa jadi hari ini dapat Rp100 ribu, tapi nanti seminggu ke depan enggak dapat penghasilan," katanya, Jumat (23/6).
Meski demikan, ia mengaku menjalani pekerjaan dengan sepenuh hati. Hal ini karena menurutnya pekerjaan sebagai perawat makam tidak hanya untuk mendapatkan uang saja, tetapi juga untuk beribadah.

"Ya ini kan kerja sambil beribadah. Beribadahnya ya bantuin orang untuk ngerawat makam keluarga," ujar Gunawan.

Gunawan mengatakan dirinya tak pernah mematok tarif khusus untuk biaya perawatan makam. Hal ini karena ia menyadari tak semua orang punya kemampuan untuk bisa membayar biaya jasa perawatan makam yang ia dan teman-temannya lakukan.
"Enggak ada tarif, kami nolong. Misalnya ada orang yang maaf kata susah tapi minta bantuan buat bersihin makam selalu bisa bantu ya dibantu. Saya percaya rezeki sudah diatur sama yang di atas," ujarnya.

Gunawan bersyukur meskipun hanya bekerja sebagai perawat makam, ia bisa menyekolahkan keenam anaknya. Karena itulah ia tak pernah mengeluh dalam menjalani pekerjaannya.

Meski saat ini di TPU Karet Bivak juga sudah ada Petugas Harian Lepas (PHL) dari pemerintah provinsi DKI Jakarta, Gunawan percaya dirinya tak akan kehilangan pekerjaan.
Cerita Haru dari Karet BivakSuasana di TPU Karet Bivak. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)

Hal ini karena menurutnya tugas dari PHL dan perawat makam berbeda. PHL kata Gunawan bekerja untuk seluruh area TPU sehingga tidak bisa fokus mengurusi setiap makam yang ada.

Beda halnya dengan perawat makam yang fokus mengurus makam-makam yang sudah diserahkan pada mereka, sehingga mereka memiliki tanggung jawab untuk bisa mengurus makam itu dengan baik.

"Kalau kami benar-benar rawat makam yang menjadi tanggung jawab kami, sehingga benar-benar kami rawat dengan telaten. Untuk potong rumput saja kami pakai gunting, kalau pakai mesin babat bisa rusak semua," tutur Gunawan.

Perawat Makam Dibutuhkan

Oyeng, salah satu pengelola TPU Karet Bivak mengatakan keberadaan perawat makam di TPU mau tak mau memang dibutuhkan. Untuk TPU Karet Bivak yang memiliki areal kurang lebih seluas 16 hektar dan terdiri dari kurang lebih 52.000 makam, ternyata hanya memiliki 41 PHL.

"Luas makam yang kurang lebih 16 hektar ini cuma punya 41 PHL, kalau di logika kan memang enggak sebanding kebutuhannya, makanya keberadaan perawat makam memang dibutuhkan, tapi itu bukan menjadi tanggung jawab pengelolaan kami," kata Oyeng.

Perawat makam itu, kata Oyeng biasanya dibutuhkan oleh ahli waris yang memang menginginkan agar makam keluarganya itu benar-benar dijaga dan dirawat.
"Memang ada PHL tapi kan dia kerjanya menyeluruh, jadi kalau ahlu waris mau makamnya benar-benar dirawat ya harus mengeluarkan dana lebih untuk membayar perawat makam," ujarnya.

Oyeng mengatakan saat ini ada lebih dari 300 perawat makam yang ada di TPU Karet Bivak.