Tak Laku, Layanan Konseling Atasi Bunuh Diri Kemenkes Ditutup

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Selasa, 25/07/2017 10:28 WIB
Tak Laku, Layanan Konseling Atasi Bunuh Diri Kemenkes Ditutup Ilustrasi bunuh diri. (Thinkstock/tzahiV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kesehatan menutup layanan konsultasi bagi penderita depresi karena sepi peminat. Padahal salah satu tujuan adanya layanan ini untuk mencegah tindakan bunuh diri karena depresi.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan, penutupan dilakukan karena layanan ini dinilai tidak efektif.

"Terjadi ketidakefektifan antara biaya dan sumber daya yang disediakan dengan jumlah penelefon yang masuk, semakin lama semakin menurun," kata Oscar dalam keterangan tertuils yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (25/7).

Saluran telepon tersebut dikenal dengan sebutan ASA dengan nomor 500-454. Layanan ini yang diluncurkan pada 10 Oktober 2010 itu berhenti beroperasi sejak 2014.


Data Kemenkes mencatat jumlah penelepon fluktuatif sejak layanan ini dibuka. Pada tahun 2010 jumlah penelpon 161 orang. Jumlah ini terus meningkat yani 222 penelepon pada 2011 dan 347 penelepon pada 2012. Namun jumlahnya menurun pada tahun 2013 dengan jumlah penelpon 267 dan hanya 46 penelepon pada tahun terakhir.

Tidak semua penelpon memanfaatkan layanan informasi untuk konsultasi kejiawaan. Mayoritas bahkan memanfaakan untuk informasi kesehatan jiwa.

"Sebagian besar penelepon lebih banyak bertanya seputar informasi kesehatan jiwa dan permintaan data atau informasi dibandingkan dengan konseling kasus bunuh diri dan konsultasi masalah kesehatan jiwa lainnya," kata Oscar.
Setelah tak ada layanan ini, Kemenkes mengimbau agar warga yang ingin berkonsultasi kejiwaan untuk menghubungi atau datang ke Puskesmas terdekat, khususnya rumah sakit jiwa.

Saat ini beberapa rumah sakit jiwa sudah memiliki layanan konseling atau konsultasi melalui telepon, antara lain RSJ Amino Gondohutomo Semarang, RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, dan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang. 

Beberapa hari belakangan terjadi beberapa kasus bunuh diri. Terbaru, dua wanita muda tewas bunuh diri dengan terjun dari lantai tujuh sebuah apartemen di Bandung, Jawa Barat kemarin karena diduga depresi.