Dia menyebut salah satu caranya bisa dengan pemberian insentif pupuk cair kepada masyarakat, terutama peladang.
"Tradisi peladang membakar hutan untuk menanam jelang musim hujan, ini harus diubah dengan cara lain. Caranya adalah dengan memberi insentif pupuk cair," kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Kamis (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tjahjo Minta KPK Usut Perizinan Lahan Gambut |
Rapat tersebut dihadiri oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Kepala BNPB Willem Rampangilei.
"Kami rapatkan, mencoba menutup lubang kelemahan. Ditemukan tadi masalah penggunaan water bombing dari pesawat terbang yang kita sewa dari luar. Bagaimana pilotnya. Apa ada izin kerja dan sebagainya. Kami atasi bersama," ucap Wiranto.
Di sisi lain, Wiranto juga meminta keterlibatan dari perusahaan-perusahaan untuk ikut serta dalam upaya pemeliharaan hutan di Indonesia.
"Kami minta untuk memberikan satu penyuluhan, bantuan-bantuan kepada petani, untuk tidak membakar lagi, tapi misalnya dengan penggunaan pupuk," ujarnya.
Mantan Panglima ABRI itu juga menyebut kebakaran hutan bukan hanya masalah nasional saja tetapi sudah menjadi masalah internasional.
"Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya masalah nasional tapi juga masalah internasional. Kalau sudah terbakar dan banyak asap, semua marahnya ke Indonesia," kata Wiranto.
Pemerintah, kata Wiranto telah sepakat untuk terlibat secara aktif dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan. Apalagi, lanjut Wiranto Presiden Joko Widodo memberi mandat untuk bisa menjaga kekayaan alam Indonesia sebagai paru-paru dunia.
"Presiden juga sudah mengatakan coba tekan masalah karhutla agar kita juga bisa melindungi kekayaan alam kita yang merupakan paru-paru dunia," ujarnya.