PKL Enggan Jadi Kambing Hitam Semrawutnya Trotoar Ibu Kota

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia | Senin, 07/08/2017 09:56 WIB
PKL Enggan Jadi Kambing Hitam Semrawutnya Trotoar Ibu Kota PKL enggan disalahkan sebagai salah satu penyebab semrawutnya trotoar di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pedagang kaki lima menolak disebut sebagai penyebab semrawutnya trotoar di Jakarta, apalagi dituding menyerobot hak pejalan kaki. Sebagai warga negara, PKL juga merasa punya hak di atas trotoar, seperti hak yang dimiliki pejalan kaki.

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Ali Mahsun mengatakan, tudingan bahwa PKL menyerobot penyerobotan hak pejalan kaki adalah tudingan tak manusiawi.

"Itu (penyerobotan) enggak benar, enggak manusiawi," kata Ali kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/8).
Karena PKL juga punya hak di atas trotoar, maka Ali berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa menerbitkan aturan yang memngatur tentang tempat mana saja dan jam berapa saja PKL boleh berjualan di atas trotoar.


"Yang penting ada jaminan dari pemerintah kalau PKL diperbolehkan berjualan di atas trotoar, waktunya diatur, tempatnya diatur, ada ketentuan PKL wajib bersih, rapi, dan tertib," ujarnya.
PKL Enggan Jadi Kambing Hitam Semrawutnya Trotoar Ibu KotaBukan hanya pengendara sepeda motor, pedagang kaki lima juga banyak yang menggunakan trotoar sehingga menghalangi pejalan kaki. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Hal tersebut menurutnya sudah dilakukan Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur di mana keberadaan PKL diatur di trotoar dan dijamin haknya .

“Di jalan dr Sutomo Surabaya, ada 70 pedagang rujak buah setiap hari di trotoar dari jam pukul 10.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, itu rapi dan bersih," ujar Ali.
"Intinya enggak ada persoalan kalau diatur dan ditata”.

Sementara itu Koordinator Koalisi Pejalan Kaki (KoPK)N Alfred Sitorus menyebut pejalan kaki tidak bisa dibatasi oleh waktu, karena waktu pejalan kaki akan melintas tidak bisa diprediksi.

Karena itu dia mempertanyakan ide pengaturan waktu di trotoar antara pedagang dan pejalan kaki.

"Bagaimana (PKL) bisa mengejawantahkan orang 'mas nanti jalan di sini jam segini ya'," ujar Alfred.
Jika memang ingin ada pembagian waktu untuk menggunakan trotoar, Alfred meminta agar para PKL mengubah undang-undang tentang lalu lintas yang selama ini mengatur tentang penggunaan trotoar.

Menurut Alfred boleh saja PKL menggunakan trotoar untuk berjualan, asalkan sepanjang jalan tersebut ditutup dan kendaraan bermotor tidak boleh melintas. Itupun, kata Alfred, PKL tetap tidak menggunakan semua bagian trotoar untuk berjualan.

“Jadi mereka berdagangnya di tengah, di pinggir (trotoar) digunakan untuk pejalan kaki, ya seperti yang ada di luar negeri," kata Alfred.