Polri dan Kemenag Rembukan Crisis Centre Korban First Travel

Marselinus Gual , CNN Indonesia | Rabu, 16/08/2017 07:27 WIB
Polri dan Kemenag Rembukan Crisis Centre Korban First Travel Sebelum Bareskrim Polri menetapkan dua pimpinan First Travel sebagai tersangka dugaan penipuan umrah, izinnya pun sudah dicabut Kemenag. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Bareskrim Mabes Polri Inspektur Jenderal Ari Dono Sukmanto mengatakan dalam waktu dekat akan dibuka Crisis Center bagi calon jemaah yang menjadi korban dugaan penipuan First Travel.

Kementerian Agama akan menjadi pihak pengelola Crisis Centre. Sementara Polri berperan menyiapkan data-data yang sudah ada.

"Kami rapat dengan instansi terkait untuk menentukan Crisis Center dulu, pengaduan-pengaduan dari masyarakat apa yang sudah dia miliki, hak apa yang dia harapkan, kami akumulasi di situ," kata Ari di Cengkareng, kemarin (15/8).

Ari mengatakan sejauh ini pihaknya sudah mengantongi dokumen milik ratusan calon jemaah yang mendaftar untuk perjalanan umrah ke First Travel. Dokumen itu nantinya bakal dijadikan acuan mengenai kejelasan nasib dana milik jemaah.

Keberadaan Crisis Centre, kata Ari, diharapkan dapat memberikan kejelasan terkait jumlah pasti uang milik jemaah yang ada di tangan First Travel.

"Kapannya itu (dikembalikan), nanti Crisis Center yang akan menjelaskan," katanya.

Posko pengaduan atau Crisis Center diketahui pernah dibentuk Polda Metro Jaya untuk mengusut kasus investasi bodong Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Grup.

Setiap harinya, korban ini mendatangi Crisis Center yang terletak di sebelah kanan gedung Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

Perkara yang melibatkan boss Pandawa Grup, Dumeri alias Salman Nuryanto kini sudah masuk ke tahap persidangan di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat.