Remisi atau pengurangan masa hukuman selama lima bulan dapat membebaskan Oman dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis pekan lalu.
Namun, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri tak mau memberikan waktu bagi Oman untuk menghirup udara segar di luar penjara. Densus 88 bergerak menjemput Oman empat hari jelang kebebasan dan membawanya menuju Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bom Thamrin merupakan kasus terorisme ketiga yang disangkakan polisi kepada Oman. Sebelumnya, pria kelahiran 5 Januari 1972 ini sudah dua kali terjerat kasus terorisme.
Sosok Aman Abdurrahman. (AFP PHOTO / BAY ISMOYO) |
Pionir ISIS Indonesia
Pengamat terorisme dari Institute for International Peace Building Taufik Andrie mengatakan, Oman merupakan seorang pendakwah seputar isu tauhid dan jihad yang mengagumi tokoh ideologi jihad pendukung Al Qaidah Abu Muhammad al-Maqdisi.
Menurutnya, sepak terjang Oman dalam dunia dakwah seputar tauhid dan jihad didukung dengan kemampuan berbahasa Arab yang baik. Oman pun mulai aktif berdakwah dalam kelompok Tauhid Wal Jihad pada 2004.
Namun, kelompok ini justru membawa Oman ke ranah pidana untuk pertama kali. Dia dan sejumlah rekannya dalam kelompok Tauhid Wal Jihad divonis pidana penjara dalam kasus peledakan bom rakitan di rumah kontrakan Oman di kawasan Cimanggis pada 2004
"Ketika aktif konsep Tauhid Wal Jihad kemudian diajak terlibat dalam pelatihan perakitan bom di 2004. Rumah kontrakan Oman di Cimanggis meledak sebelum waktunya, kemudian dia dan beberapa orang rekannya ditetapkan sebagai tersangka," kata Taufik ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (22/8).
Bersama rekan-rekannya, Oman kemudian mendekam di dalam penjara hingga 2008. Menurutnya, Oman aktif menerjemahkan buku atau tulisan karya Abu Muhammad al-Maqdisi ketika berada di dalam penjara. Buku atau tulisan tersebut kemudian Oman edarkan di kalangan militan secara luas.
Taufik menuturkan, hal tersebut membuat Oman menjadi terkenal.
Setelah itu, Oman mengikuti pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh Besar, pada 2010. Taufik mengatakan, Oman berperan dalam mendanai dan mengirimkan sejumlah pengikutnya dalam pelatihan ini.
Keterlibatan itu ternyata membawa Oman ke ranah pidana untuk kedua kalinya. Dia divonis sembilan tahun penjara.
Dalam kesempatan kedua di penjara ini, Oman kemabali aktif dalam melakukan penerjamahan. Kali ini, ia menerjamahkan buku lebih banyak dan tidak sebatas karya Abu Muhammad al-Maqdisi.
Kegiatan Oman di dalam penjara ternyata terpantau oleh kelompok ekstrem di Indonesia lainnya.
Perlahan, Oman pun menjadi tokoh rujukan ideologi yang senantiasa diminta mengeluarkan fakta dan memberikan jawaban atas pertanyaan di antara para anggota kelompok ekstrem.
"Pelan-pelan Oman jadi semacam tokoh rujukan, bukan hanya oleh kelompok Tauhid Wal Jihad, tapi oleh kelompok lain juga. Misalnya, ada fatwa apa itu ditanyakan ke dia, kemudian dia produksi fatwa," tuturnya.
Nama Oman kian populer setelah kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) resmi mendeklarasikan diri di Suriah. Menurut Taufik, Oman adalah pionir lahirnya gerekan ISIS di Indonesia.
Aman Abdurrahman menjadi sosok yang dianggap pionir ISIS di Indonesia. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal) |
"Dia proklamasikan dukung ISIS. Sejak itu, dia jadi pionir dan terkesan seperti pemimpin ideologis ISIS yang kemudian jadi sentral untuk rekrut orang dan melakukan pengiriman orang ke Suriah sampai terlibat dalam serangan terorisme di indonesia," ujarnya.
Merebut Pengikut Ba’asyir
Terpisah, sepak terjang Oman pun relatif mengalahkan pesona pendiri Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba’asyir.
Ba’asyir sebelumnya memutuskan keluar dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) untuk mendirikan jemaat tersebut pada 2008. Banyak anggota MMI yang mengikuti langkah Ba’asyir.
Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan dominasi Ba’asyir atas pengikutnya sendiri di JAT tidak berlangsung terlalu lama. Dikatakannya, sosok Aman Abdurrahman menjadi lebih populer dan dielu-elukan di tubuh JAT.
“JAT itu direbut oleh Aman Abdurrahman dan kemudian banyak yang dibawa mendukung ISIS,” tutur Al Chaidar usai menghadiri diskusi di kantor Imparsial.
Aman lalu membawa anggota JAT yang direbut dari Ba’asyir mendirikan organisasi baru bernama Jamaah Anshar Daulah (JAD). Arah perjuangan organisasi tersebut, lanjut Al Chaidar, sama dengan ISIS di Irak dan Suriah, yakni mendirikan negara Islam.
Selain JAD, sempalan JAT juga membentuk organisasi yang lain. Organisasi itu dipimpin oleh sosok yang sejalan dan sepemikiran dengan Aman. Oleh karenanya, organisasi pun memiliki cita-cita yang serupa dengan JAD.
“Namanya Jamaah Ansharu Daulah Khilafah Nusantara (JAKDN) yang dipimpin oleh Bahrun Naim. JAD dan JAKDN ini berafiliasi dengan ISIS,” ujar Al Chaidar.
Pengamat menilai Abu Bakar Ba'syir tak lagi dominan di kalangan JAT. (REUTERS/Darren Whiteside) |
Al Chaidar menjelaskan, sebetulnya masih cukup banyak pengikut fanatik Abu Bakar Ba’asyir dalam tubuh JAT. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan semua anggota JAT hijrah ke JAD sehingga Abu Bakar Ba’asyir benar-benar kehilangan pengikut setianya.
Terlebih, JAT dan JAD pun tidak bermusuhan.
“Saya kira nanti implikasinya nanti Abu Bakar Ba’asyir tidak memiliki pengikut," papar Al Chaidar. "Menjadi pemimpin yang tidak punya pengikut."
Sosok Aman Abdurrahman. (AFP PHOTO / BAY ISMOYO)
Aman Abdurrahman menjadi sosok yang dianggap pionir ISIS di Indonesia. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Pengamat menilai Abu Bakar Ba'syir tak lagi dominan di kalangan JAT. (REUTERS/Darren Whiteside)