Usai Sukhoi, Indonesia Lanjutkan Sistem Imbal Beli Alutsista

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 23/08/2017 10:30 WIB
Usai Sukhoi, Indonesia Lanjutkan Sistem Imbal Beli Alutsista Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan Indonesia tak akan membeli alutsista jika tidak melalui mekanisme imbal beli. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut Indonesia akan terus menerapkan sistem imbal beli dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Sistem imbal beli baru diterapkan Indonesia dalam pengadaan 11 unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia dengan total nilai US$1,14 miliar.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut pembelian sukhoi dengan sistem imbal beli tersebut menjadi contoh praktik pelaksanaan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
Pada pasal 43 ayat 5 huruf e UU tersebut dijelaskan, setiap pengadaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) dari luar negeri wajib disertakan imbal beli, kandungan lokal dan offset minimal 85 persen di mana kandungan lokal dan atau offset paling rendah 35 persen.


"(Akan diterapkan) seluruhnya (dalam pengadaan alutsista) karena ini kan UU Nomor 16 Tahun 2012, kita ToT (transfer of technology), imbal beli, antarpemerintah atau G to G," kata Ryamizard di Gedung Kementerian Pertahanan, Selasa (22/8).

Indonesia, kata Ryamizard, akan berpikir dua kali dalam pengadaan alutsista yang tidak dilakukan dengan sistem imbal beli.

"Banyaklah negara, negara lain hampir semua negara (pakai sistem itu), Australia ada ToT, langsung nawarin ToT dia. Enggak harus kita tanya, dia nawarin," ujarnya.

Mekanisme imbal beli itu akan dilakukan dengan melibatkan pemerintah kedua negara atau government to government (G to G), guna memastikan tidak ada pihak ketiga yang ikut terlibat dalam pengadaan alutsista.

"Yang penting kalau beli kan G to G, enggak boleh rekanan-rekanan menentukan. Memang siapa, duitnya duit Kemhan kok," ucapnya.
Ryamizard menyebut 11 Sukhoi SU-35 yang dibeli Indonesia lewat mekanisme imbal beli merupakan versi lengkap dengan kemampuan untuk menembak dan mengebom.

Imbal beli 11 Sukhoi itu terealisasi setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BUMN Rusia, Rostec, dengan BUMN Indonesia PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.

Idealnya, kata Ryamizard, Indonesia membutuhkann satu skuadron atau 16 unit Sukhoi.