Mengenal Syaiful 'Brekele' Anam, Ayah Bocah Petarung ISIS

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Rabu, 13/09/2017 10:15 WIB
Mengenal Syaiful 'Brekele' Anam, Ayah Bocah Petarung ISIS Syaiful Anam alias Brekele ditangkap Densus 88 karena terlibat teror bom rakitan di Poso. Dia juga menularkan ideologi jihad ke anaknya yang tewas di Suriah. (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar meninggalnya seorang bocah berusia 12 tahun Hatf Saiful Rasul dalam serangan udara di Suriah pada 1 September lalu, membuka memori lama pemberantasan terorisme di Indonesia. Ayah Hatf adalah seorang narapidana kasus terorisme, Syaiful Anam.

Syaiful adalah pria berusia 36 tahun yang memiliki tiga nama samaran, yakni Brekele, Mujadid, dan Idris. Ia ditangkap personel tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri atas serangan teror bom rakitan di Pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 28 Mei 2005.
Syaiful melakukan aksinya bersama Ardin Djanatu dan Aat dengan meletakkan dua bom rakitan di tempat terpisah, di dalam Pasar Tentena dan depan teras sebuah toko dekat Bank BRI. Aksi ini mengakibatkan tercatat 23 orang tewas dan sedikitnya 40 orang luka-luka.

Sebagian besar korban tewas akibat patah tulang terbuka di beberapa bagian tubuh, serta terluka akibat tusukan dan goresan benda tajam.
Kebenaran informasi bahwa Hatf merupakan putra dari Saiful telah dikonfirmasi oleh seorang perwira tinggi Polri. Namun, ia menolak menerangkan lebih lanjut saat diminta menjelaskan lebih detail terkait profil Hatf.


Dalam keterangan foto Hatf yang dimuat Reuters juga dibenarkan perihal hubungan antara Syaiful serta Hatf sebagai ayah dan anak.

"Hatf Saiful Rasul, anak laki-laki Indonesia dan anak laki-laki terpidana Syaiful Anam, alias Brekele, memegang sebuah senapan pada masa perangnya di Suriah sebelum kematiannya pada tanggal 1 September 2016 berusia 12 tahun dalam gambar ini yang dikeluarkan melalui Telegram," tulis Reuters.
Mengenal Syaiful 'Brekele' Anam, Ayah Bocah Petarung ISIS(TELEGRAM/Handout via REUTERS)
Syaiful sendiri sempat dijemput paksa Densus 88 dari Lembaga Pemasyarakatan Permisan, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah pada awal 2016 silam atas dugaan keterlibatan aksi teror di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016.

Beberapa bukti yang ditemukan Densus 88 di blok hunian Syaiful seperti telepon seluler, alat penambah daya (charger) telepon seluler, hingga alat penguat sinyal mengindikasikan Syaiful terlibat dalam serangan teror di kawasan Thamrin.

Syaiful Berangkatkan Hatf

Pengamat terorisme dari Institute for International Peace Building Taufik Andrie juga membenarkan bahwa Hatf merupakan anak Syaiful.

Menurutnya, informasi terkait langkah Syaiful memberangkatkan anggota keluarganya ke Suriah untuk mendukung perjuangan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sudah tersebar sejak 2015.

"Saya dengar keluarganya dikirim ke Suriah, tapi tidak tahu persis apakah seluruh keluarganya atau hanya anaknya saja, tapi sudah terdengar lama dari dua tahun lalu dia kirim keluarganya ke Suriah," ucap Taufik saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (12/9).

Menurutnya, Syaiful merupakan sosok yang berperan penuh dalam memberikan ideologi radikal terhadap Hatf. Dia menuturkan, Syaiful merupakan mantan pendukung kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang kini telah menjadi pendukung ISIS.

"Brekele ini dulu anggota JI yang kemudian beralih menjadi pendukung ISIS. Posisi di Nusakambangan. Dia aktif sampaikan dukungan pada ISIS, bahkan dia dianggap juga terlibat dalam serangan teror di Thamrin," ucap Taufik.

Dia menduga, alasan Syaiful berubah haluan menjadi pendukung ISIS karena melihat waktu yang tepat untuk mendukung pembentukan negara khilafah.

Menurutnya, legitimasi yang diperoleh ISIS dianggap memberikan perintah bagi umat Muslim untuk berbaiat.

“Orang pro ISIS anggap ini waktu yang tepat untuk dukung khilafah," tuturnya.