Seorang remaja naik ke pot di tepi selokan. Dia memasang wajah sangar. Matanya melotot seolah menumpahkan seluruh kemarahan.
"Bakar PKI hidup-hidup," pekiknya mengarah ke sejumlah orang yang berada di dalam kantor pengacara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Massa begitu yakin, sejumlah orang yang berkegiatan di kantor itu sedang membangkitkan kembali PKI dan ajaran komunisme. Dasarnya, agenda seminar Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66 yang akhirnya dibubarkan sehari sebelumnya.
Massa aksi datang dengan jumlah yang tak terduga. Pesan berantai dan ajakan agar publik mengepung kantor LBH sempat disebar melalui media sosial.
"Matiin saja! Dia berani matiin jenderal. Jenderal saja dimatiin, apalagi kita," kata seorang peserta aksi mengompori massa.
Malam itu, konsentrasi massa terbagi di tiga titik aksi.
Massa yang berada di gerbang utama mendesak masuk ke kantor LBH. Ada pula massa yang berorasi di gerbang depan Jalan Diponegoro. Sementara massa di persimpangan Jalan Mendut lebih banyak duduk menunggu situasi.
"Andaikan kita mati hari ini, kita akan mati di jalan Allah. Kita siap mati syahid," serunya mengobarkan emosi melalui pengeras suara.
Seorang pewakilan ormas berorasi di tengah aksi pengepungan LBH Jakarta yang dihadiri ribuan orang. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
Di titik lain, kelompok aksi yang mengaku berasal dari Maluku justru mengancam akan membangkitkan separatisme. Mereka menyatakan akan memantik Republik Maluku Selatan (RMS) jika Polri dan TNI membekingi kegiatan kebangkitan PKI.
"Kalau hari ini aparat keamanan tidak membubarkan PKI, maka yakin dan percayalah, kami dari Maluku siap mengibarkan bendera RMS," kata orator disambut pekik takbir.
Identitasnya diketahui dari atribut yang mereka kenakan. Bahkan ada orator yang memperkenalkan diri dari perwakilan organisasinya.
Yel-yel berulang kali dipekikkan. "Ganyang PKI, Ganyang PKI sekarang juga," seru massa.
Percaya TNI
Di tengah massa yang saling berteriak menghujat, aroma seperti bau minuman keras terendus keluar dari mulut mereka. Tak diketahui dari kelompok mana orang-orang itu.
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis menghampiri massa usai menemui sejumlah orang yang berada di dalam kantor LBH. Idham berusaha meredam situasi.
"Rekan-rekan sekalian, saya minta semuanya bisa memahami bahwa yang terjadi di dalam ruang LBH ini tidak ada kegiatan yang sifatnya seminar tentang PKI," kata Idham melalui pengeras suara.
Massa sontak tak percaya. Mereka kompak berteriak, "Bohong!"
Massa mengepung kantor LBH Jakarta menuntut pembubaran kegiatan yang diduga membangkitkan kembali PKI. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
"Saya selaku Kapolda memberikan jaminan kepada kalian. Kita masih bisa melakukan dengan cara komunikasi yang santun," katanya.
Namun reaksi massa justru sebaliknya. Mereka mendesak masuk ke kantor LBH.
"Saya mau minum darah PKI, Pak," pekik seseorang di tengah massa.
Kapolres Jakarta Pusat Komisaris Besar Suyudi Ario Seto juga berusaha menenangkan gejolak massa. Dia mengatakan telah berkomunikasi dengan LBH, bersama Komandan Kodim 0501/Jakarta Pusat Letnan Kolonel (Inf) Edwin Adrian Sumantha.
"Rekan-rekan harus percaya dengan saya dan Pak Dandim. Kegiatan yang dikatakan di media sosial bahwa ini PKI, itu tidak benar. Jangan sampai kita berhadap-hadapan," katanya.
"Saya minta semua menahan diri, mohon tenang. Siapa lagi yang dipercaya kalau seperti ini?" ujar Suyudi.
"TNI," jawab massa merespons dengan tegas. Pekikan "hidup TNI" kemudian memecah sambutan Suyudi.
Edwin pun angkat suara. Dia menyatakan hal yang sama, di kantor LBH tidak ada acara yang terindikasi aktivitas PKI.
"Kalau memang ada bukti, proses. Saya minta tenang, karena yang di dalam mau keluar tidak bisa. Biarkan mereka pulang," kata Edwin.
Seorang warga langsung menyambung pernyataan Edwin. Dia menyatakan, tidak ada sejarah 1965 yang perlu diluruskan. "Sejarah '65 adalah sejarah kelam," kata perempuan itu.
"Malam ini kita bersama-sama berbaik sangka kepada Polri dan TNI," katanya.
Sementara perwakilan FPI sedikit memberi tekanan kepada aparat dalam orasinya. Dia meminta Kapolda menjamin tidak ada kegiatan PKI dalam waktu 24 jam ke depan.
Seorang peserta aksi melontarkan tuntutan agar polisi memproses hukum politikus PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning. Anggota Komisi IX DPR itu pernah menulis buku "Aku Bangga Jadi Anak PKI".
"Tolong usut yang namanya Ribka Tjiptaning," pekik seseorang.
Aparat keamanan berjaga-jaga di depan Gedung LBH Jakarta terkait dengan kericuhan pada Minggu malam. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
Situasi makin mencekam. Kecaman dan umpatan kian sering dilontarkan dengan gelap mata. "Gebuk, bantai, ganyang". Kata-kata itu ditujukan kepada orang-orang yang dituduh PKI. Pekik takbir juga kerap menggelora.
Lewat tengah malam, situasi menjadi tidak terkendali. Dari tengah massa, batu dilempar ke arah kantor LBH. Bunyi pecahan kaca terdengar dari kejauhan.
Lihat juga:PAN Akan Gelar Nonton Bareng Film G-30S/PKI |
Kedua pihak terlibat bentrok. Ada yang memukul dengan tongkat. Sementara yang lain melempar batu dan botol.
Mobil barracuda meluncur ke barisan depan. Water cannon pun disemprotkan ke arah demonstran. Sebagian massa masih bertahan.
Tembakan peringatan dilepaskan ke udara. Massa mulai kocar-kacir. Mereka berlarian ke arah Salemba dan Tugu Proklamasi. Sebagian kelompok bertahan di seberang Metropole XXI. Mereka sempat melantunkan selawat sambil ada yang membawa batu.
Usai kerusuhan malam itu, sekitar pukul 3 pagi, sepanjang jalan depan Metropole hingga RS Cipto Mangunkusumo berubah kacau. Pecahan batu dan botol berserakan di mana-mana. Sedikitnya, empat pria digelandang polisi dini hari itu. Paginya polisi menyebut telah mengamankan 22 orang.
[Gambas:Video CNN]
Di jalan samping RSCM, sejumlah orang mulai memprovokasi kembali. Mereka melempari batu ke arah polisi di seberang sungai.
Ketika mendapat perintah atasan, pasukan polisi melakukan serangan balik dengan membawa pentungan dan senjata. Selain mengejar kelompok massa, polisi juga merobohkan sepeda motor yang diparkir di sekitar lokasi.
Aksi penyerangan itu menutup kericuhan di malam awal pekan.
Saat ketegangan mulai mereda, para pegiat LBH Jakarta dan beberapa lansia korban Tragedi 1965 yang sempat terkepung akhirnya dievakuasi ke kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP) Bejo Untung yang berada di kantor LBH sejak sore mengatakan, acara hari itu hanya kegiatan kesenian untuk merespons tindakan aparat dan massa yang memblokade dan membubarkan kegiatan seminar sejarah pada Sabtu lalu.
Bejo tidak menyangka, selama ini Kantor LBH yang dianggap paling aman untuk berkumpul dan berdiskusi, tiba-tiba diserbu malam itu. Dia membantah ada lagu Genjer-Genjer yang dinyanyikan selama kegiatan.
"Tidak ada sama sekali, itu tidak benar. Tidak ada lagu Genjer-Genjer," kata Bedjo.
"Itu karena hoax yang kemudian ditelan (informasinya) begitu saja, sengaja untuk memprovokasi," tambahnya.
Peristiwa malam itu jadi bukti bahwa isu kebangkitan kembali PKI masih laku memantik amuk dan belum berakhir hingga hari ini.
Seorang pewakilan ormas berorasi di tengah aksi pengepungan LBH Jakarta yang dihadiri ribuan orang. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Massa mengepung kantor LBH Jakarta menuntut pembubaran kegiatan yang diduga membangkitkan kembali PKI. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Aparat keamanan berjaga-jaga di depan Gedung LBH Jakarta terkait dengan kericuhan pada Minggu malam. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)