Polemik PKI, Kepentingan Pilpres, & Repertoar Aksi Bela Islam
CNN Indonesia
Kamis, 21 Sep 2017 12:56 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Awalnya sekitar seratusan orang tiba-tiba menyambangi kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (17/9) malam. Mereka terdengar meneriakkan anti Partai Komunis Indonesia (PKI) dan paham komunis saat berorasi di depan gedung tersebut.
Semakin malam, jumlah massa pedemo di luar gedung itu kian bertambah. Lemparan batu dan benda lain, serta ucapan provokasi juga mewarnai ketegangan malam itu. Akhirnya polisi turun tangan membubarkan paksa massa yang ricuh pada Senin (18/9) dini hari WIB.
Massa yang berasal dari gabungan ormas itu menuding LBH Jakarta mendukung PKI. Tudingan itu muncul usai mereka rencana gelaran seminar ‘Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966’ di gedung tersebut.
Pihak LBH secara tegas mengelak tudingan itu. Mereka menuding, serangkaian aksi unjuk rasa itu dikendalikan secara sistematis oleh oknum politik. Tudingan LBH berdasarkan keberadaan propaganda dan banyaknya berita hoaks yang beredar di media sosial pada akhir pekan lalu.
Namun, suara anti-PKI yang kembali menggema jelang akhir September ini dinilai bukan sekedar ketegasan atas aplikasi TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966. Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM Najib Azca menilai peristiwa itu berkaitan dengan mendekatnya tahun politik 2018 dan 2019, serta ‘Aksi Bela Islam’.
Ia menduga hal tersebut karena pergerakan itu dinilai dimotori oknum ‘Islam-politik’ yang memahami isu komunisme memiliki daya pikat serta daya gerak yang kuat guna memobilisasi massa.
“Kejadian itu bisa dibaca ada kaitannya dengan persiapan perhelatan politik tahun 2019 dan merupakan repertoar ‘Aksi Bela Islam’,” ujar Najib dalam pesan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (19/9).
Najib menuturkan, kalangan Islam-politik memilki jaringan dan simpul yang tidak bisa diremehkan. Mereka dinilai mampu menggerakkan massa dari kalangan kelas menengah Muslim yang mudah termakan ‘framing’. Salah satunya terkait PKI dan komunisme yang sejak pertengahan dekade 1960-an dipropaganda sebagai musuh Islam.
Kelompok Islam-politik itu seolah membangun persepsi umat Islam dalam ancaman PKI demi menciptakan rasa takut. Ketakutan itu kemudian berdampak pada luapan emosi umat Islam kelas menengah lewat aksi keras seperti yang terjadi di luar LBH Jakarta akhir pekan lalu.
Semakin malam, jumlah massa pedemo di luar gedung itu kian bertambah. Lemparan batu dan benda lain, serta ucapan provokasi juga mewarnai ketegangan malam itu. Akhirnya polisi turun tangan membubarkan paksa massa yang ricuh pada Senin (18/9) dini hari WIB.
Lihat juga:Alasan Panglima TNI Gelar Nobar G-30S/PKI |
Pihak LBH secara tegas mengelak tudingan itu. Mereka menuding, serangkaian aksi unjuk rasa itu dikendalikan secara sistematis oleh oknum politik. Tudingan LBH berdasarkan keberadaan propaganda dan banyaknya berita hoaks yang beredar di media sosial pada akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi membubarkan paksa massa pedemo di luar Gedung LBH Jakarta, Senin (18/9) dinin hari WIB. (ANTARA/Muhammad Adimaja) |
Ia menduga hal tersebut karena pergerakan itu dinilai dimotori oknum ‘Islam-politik’ yang memahami isu komunisme memiliki daya pikat serta daya gerak yang kuat guna memobilisasi massa.
Kelompok Islam-politik itu seolah membangun persepsi umat Islam dalam ancaman PKI demi menciptakan rasa takut. Ketakutan itu kemudian berdampak pada luapan emosi umat Islam kelas menengah lewat aksi keras seperti yang terjadi di luar LBH Jakarta akhir pekan lalu.
Membangun Opini Politik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Polisi membubarkan paksa massa pedemo di luar Gedung LBH Jakarta, Senin (18/9) dinin hari WIB. (ANTARA/Muhammad Adimaja)