Panglima TNI Akui Perlu Riset Mendalam untuk Film G30S/PKI

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Jumat, 22/09/2017 19:37 WIB
Panglima TNI Akui Perlu Riset Mendalam untuk Film G30S/PKI Menanggapi gagasan Presiden Jokowi tentang film baru G30S/PKI untuk milenial, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan perlu riset mendalam dulu. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengakui film yang dibuat untuk menceritakan kembali peristiwa G30S/PKI memerlukan riset mendalam.

Hal tersebut diutarakan Gatot usai kegiatan Silaturahmi Keluarga Besar TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (22/9).

Sebelumnya pada awal pekan ini, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan agar dibuatkan film baru untuk dipahami generasi milenial terkait peristiwa 1965. Hal itu diutarakan Jokowi menyusul polemik pemutaran film PKI yang dicetuskan Gatot.


"Kalau mau dibuat pemerintah (versi baru) kami akan ikutin. Dan, kami yakin pemerintah membuat film seperti itu juga tidak mungkin dalam waktu sebulan dua bulan. Kalau sebulan dua bulan itu berarti [film] bohong-bohongan," ujar Gatot.

Gatot menegaskan film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI yang dirilis 1984 silam telah dibuat dengan riset mendalam. Atas dasar itulah jenderal bintang empat itu pun menekankan pada riset untuk pembuatan film baru terkait penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tersebut.

"Karena itu harus didiskusikan dan ada riset yang mendalam. Tapi, saya ingatkan bahwa apapun yang akan dibuat, agama dan ideologi [Pancasila dan NKRI] itu tidak akan diubah. Sudah begitu saja," ujar Gatot.

Di satu sisi, perwira tinggi TNI lulusan Akademi Militer 1982 itu enggan menanggapi tudingan dugaan sejumlah pihak yang menyatakan dirinya sedang berpolitik dengan menggagas pemutaran film G30S/PKI kembali. Gatot menganggap wajar saat mendengar pendapat dan kritikan tersebut.

"Saya bilang tadi orang kawin juga bisa dipolitikin [masuk wacana politik], ya wajar-wajar saja orang curiga, wajar. Dan, sekarang orang berkomentar apa saja wajar, yang penting jangan menyebarkan berita hoaks," pungkasnya.