Toilet Cerdas Impian Ahok Hadir di Halte Transjakarta Monas

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Senin, 09/10/2017 20:06 WIB
Toilet Cerdas Impian Ahok Hadir di Halte Transjakarta Monas Ilustrasi toilet. (Dok. TOTO Museum)
Jakarta, CNN Indonesia -- Urusan kamar kecil bukanlah urusan sepele bagi orang yang kebelet, apalagi di tempat umum. Atas dasar itu, urusan toilet atau wc bisa menjadi salah satu primadona di fasilitas umum.

Namun, ada persoalan yang ditinggalkan yakni soal pengelolaan kebersihannya. Tak bisa dimungkiri, tak semua orang mau bersama-sama menjaga fasilitas umum usai membuang hajat, apalagi di tempat publik seperti terminal atau halte bus.
Atas dasar itu, Gubernur terdahulu DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat pernah mengimpikan toilet di fasilitas umum bisa tak jorok dan bersih. Impian itu pun diresmikan oleh mantan wakilnya yang kini menjabat Gubernur DKI, Djarot.

Sebuah toilet cerdas alias smart toilet kini hadir di halte Transjakarta Monas dan Balai Kota. Berbeda dengan toilet konvensional, toilet cerdas dilengkapi fitur teknologi yang mampu meningkatkan kenyamanan pengguna dan tentu saja ramah lingkungan.


"Ini cita-cita kami, Pak Ahok dan saya, sejak awal supaya toilet kita bersih dan nggak jorok. Bahkan, di taman-taman toilet harus selevel dengan hotel," kata Djarot dalam sambutan peresmian toilet cerdas di Halte Monas, Jakarta, Senin (9/10).

Nantinya, pengguna toilet ini harus membayar lewat saldo yang dipotong saat men-Tap kartu. Djarot menginginkan harganya tak lebih mahal dari rata-rata toilet umum lainnya yakni Rp2 ribu.

"(Tarif toilet) paling mahal Rp2 ribu perak. Bukan dari sisi nilai uang, tetapi kewajiban dia supaya merawat. Akan kami coba ajukan di halte-halte yang ramai, terutama busway koridor 13," kata pria yang masa jabatannya sebagai Gubernur DKI tinggal sepekan lagi.
Djarot Resmikan Toilet Cerdas Impiannya dan Ahok di Halte BusGubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kedua dari kiri) memberikan sambutan saat meresmikan toilet cerdas di Halte Monas, Jakarta, 9 Oktober 2017. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Walaupun direncanakan berbayar, Djarot meminta pengelola menggratiskan toilet tersebut selama tiga bulan masa uji coba.

Setelah di halte Monas dan Balai Kota, Djarot juga meminta toilet cerdas ini ditempatkan pula di halte-halte yang ramai penumpang serta di ruang publik lain seperti pasar, taman, dan ruang publik terpadu ramah anak.

Djarot pun menegaskan bahwa semua toilet di fasilitas sosial maupun fasilitas umum harus ramah pada warga disabilitas maupun difabilitas.

Menanggapi itu, Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono menerangkan sejumlah 77 toilet konvensional yang tersebar di 230 halte Transjakarta pun diharapkan mampu menyusul untuk mengadopsi toilet cerdas seperti di Monas dan Balai Kota.

Meninjau Kecerdasan Toilet

Untuk masuk ke dalam toilet, pengguna harus menempelkan (tapping) kartu Transjakarta atau e-money layaknya hendak menaiki armada bus tersebut.

Toilet cerdas itu dilengkapi sensor otomatis lampu dan exhaust fan. Ada pula sistem indikator level air, sehingga penggunaannya bisa efisien. Selain itu, toilet cerdas juga menggunakan sistem biopal atau instalasi pengolahan limbah.

Fasilitas toilet cerdas juga memiliki tangki air dan septic tank yang mampu mengolah air limbah dari toilet.

Sistem toilet cerdas juga dapat mengumpulkan data pemakaian toilet seperti jumlah pengguna, durasi pengguna, dan waktu penggunaan. Data itu berguna untuk memudahkan pemeliharaan agar mengetahui sisa air yang ada.

Djarot Resmikan Toilet Cerdas Impiannya dan Ahok di Halte BusGubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kiri) didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Isnawa Adji (kanan) menguji fasilitas pintar di dalam toilet cerdas Halte Monas yakni sensor gerak. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Penggunaan air di toilet cerdas pun diklaim akan lebih efisien dibandingkan toilet konvensional karena hanya menggunakan 2 hingga 4 liter air per siram (flush), serta menggunakan keran yang bersensor.

Demi menjaga kebersihan, toilet cerdas menerapkan konsep antivandalisme karena saniter tidak mudah rusak. Pengelola berani menjamin itu karena keran air, dispenser sabun, tempat tisu, dan tempat sampah berada di dalam tembok dan tidak dapat disentuh langsung pengguna.

Direktur Utama PD Pal Jaya Subekti mengatakan, untuk membangun setiap unit toilet cerdas ini dibutuhkan dana hingga Rp200 juta. Untuk di halte monas terdapat dua unit, sementara di halte Balai Kota ada satu unit.