Rumah Mantan Presiden PKS Terjual Hampir Rp3 Miliar

Feri Agus , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 21:34 WIB
Rumah Mantan Presiden PKS Terjual Hampir Rp3 Miliar Rumah mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq laku terjual dalam lelang yang digelar KPK, Jumat (13/10). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rumah mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq yang dilelang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah laku terjual. Rumah rampasan terkait tindak pidana korupsi dan pencucian uang itu dibeli Edy Erwanto dengan harga Rp2.965.171.000.

"Hari ini sudah selesai lelang, untuk pemenang atas nama Edy Erwanto dengan harga Rp2.965.171.000," kata Panitia Lelang KPK Leo Sukoto Manalu saat dikonfirmasi awak media, Jumat (13/10).

Lelang rumah Luthfi Hasan itu dibuka hari ini dari pukul 09.00 sampai 11.00 WIB. Proses lelang dilakukan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta III dengan sistem online.
Rumah yang dilelang itu berada di Perumahan Rumah Bagus Residence Blok B1, Jalan Kebagusan Dalam I RT 007/RW 04, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Menurut Leo, rumah tersebut terjual sesuai harga limit yang sudah ditetapkan sebelumnya. Harga limit ditetapkan berdasarkan peniliaian dari pihak Kementerian Keuangan.

"Sesuai harga limit, harga limit ini didasarkan harga penilaian dari KPKNL Jakarta III," ujarnya.
Leo menyatakan, Edy Erwanto sudah lebih dulu menyetorkan uang jaminan sebesar Rp600.000.000. Dia memiliki waktu lima hari ke depan untuk melunasi rumah tersebut.

"Kemarin kan pake uang jaminan Rp600 juta sebelum lelang itu sudah wajib disetor. Nah setelah ditetapkan pemenang yang bersangkutan diberi waktu lima hari kerja untuk lunasi kekurangannya," tuturnya.

Rumah Mantan Presiden PKS Terjual Hampir Rp3 MiliarRumah mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Sebelumnya, juru bicara KPK Febri Diansyah menyatakan lelang rumah Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq dilakukan setelah perkara yang bersangkutan berkekuatan hukum tetap.

Luthfi divonis 18 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair enam bulan kurungan penjara serta dicabut hak politiknya akibat kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian dan pencucian uang.
Dia terbukti melakukan hubungan transaksional dengan mempergunakan kekuasaan elektoral demi imbalan atau fee dari pengusaha daging sapi.

Selain itu, mantan presiden PKS itu juga terbukti menerima janji pemberian uang senilai Rp40 miliar dari PT Indoguna Utama dan sebagian di antaranya, yaitu senilai Rp1,3 miliar telah diterima melalui Ahmad Fathanah. (wis)