Santri, Internet dan 'Bekal' Bertarung di Kampung Global

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Minggu, 22/10/2017 15:33 WIB
Perkenalan santri dengan teknologi tidak berjalan mulus meski bersekat. Santri pun diharap memiliki bekal guna mengarungi kampung teknologi. Perkenalan santri dengan teknologi tidak berjalan mulus meski bersekat. Santri pun diharap memiliki bekal guna mengarungi kampung teknologi. (CNNIndonesia.com/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alunan salawat berkumandang di Pesantren Asshidiqiyah yang terletak di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta, pada Rabu (18/10). Seorang santri tingkat perguruan tinggi memberi tahu bahwa itu adalah bel tanda bergantinya mata pelajaran.

Sebuah gedung utama berlantai lima menjadi pusat aktivitas belajar para santri. Tak banyak santri yang keluar kelas meski bel tanda bergantinya pelajaran baru saja berbunyi. Nala, 15 tahun, masih terpaku di depan meja komputer di ruang kelas di lantai dasar. Matanya jeli menatap monitor. Jemarinya lincah menyusuri papan keyboard.

Nala bersama belasan santriwati lain yang berada di ruang tersebut, tengah mengikuti pelajaran komputer yang diberikan seorang ustaz berusia sekitar 30-an tahun.


Suasana kelas relatif tenang. Para santriwati tampak asyik menekuni komputernya masing-masing, seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan mengakses internet, yang diberikan hanya pada mata pelajaran komputer. Di kelas itu, Nala dan teman-temannya membuka berbagai platform media sosial seperti facebook, youtube, dan instagram.

Secara demografis, Nala dan teman-temannya adalah bagian dari kelompok yang disebut sebagai generasi milenial, atau mereka yang terlahir antara tahun 1980 hingga 2000-an.

Generasi milenial memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Hasil riset dari Pew Research Center, 2010 silam menyebut, generasi milenial ditandai oleh sejumlah karakteristik seperti keterikatan pada smartphone, kepemilikan akun media sosial, dan melek teknologi. Namun, di Pesantren Asshidiqiyah, semua atribut yang melekat pada generasi milenial itu, dibatasi.

Soal kepemilikan gawai misalnya, pengelola membatasi smartphone beredar di kalangan santri dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pun dengan akses internet yang hanya diberikan saat mata pelajaran komputer, serta pada hari libur ketika Wali Santri mengunjungi anak-anaknya.
Selain momen-momen itu, kegiatan para santri diisi berbagai materi mulai dari ilmu agama, hafalan Alquran, ilmu pengetahuan umum, hingga beragam ekstrakurikuler.

Nala pun mengakui, sebagai santri, dirinya jarang mengakses internet. Tapi Nala tak mengeluh. Baginya, keterbatasan mengakses internet merupakan risiko yang harus diterima seorang santri.

"Memang, seperti ini menjadi seorang santri," kata Nala kepada CNNIndonesia.com.

Pembatasan akses internet ini bukan tanpa alasan.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshidiqqiyah, KH Ahmad Mahrus Iskandar mengatakan, pihaknya tak menafikan pentingnya internet dalam mendorong pengembangan keilmuan santri.Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshidiqqiyah, KH Ahmad Mahrus Iskandar mengatakan, pihaknya tak menafikan pentingnya internet dalam mendorong pengembangan keilmuan santri. (CNN Indonesia/Muhammad Amas)

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshidiqqiyah, KH Ahmad Mahrus Iskandar mengatakan, pihaknya tak menafikan pentingnya internet dalam mendorong pengembangan keilmuan santri. Meski demikian, menurut dia, internet tetap harus dikendalikan untuk mencegah tergerusnya nilai-nilai keagamaan dalam diri santri.

"Sesekali kami adakan razia smartphone. Dadakan. Tak ada sanksi bagi santri yang ketahuan membawa smartphone, tapi kami menyitanya," kata pria yang akrab disapa Gus Mahrus itu.

Sebagai pengasuh sekaligus penanggung jawab pesantren, Gus Mahrus punya pandangan tersendiri tentang bagaimana seharusnya santri berinteraksi dengan internet.

Menurut dia, internet dan segala sesuatu di luar ibadah murni adalah perantara atau alat mendapatkan rahmat dari Tuhan. Mengingat statusnya sebagai alat, Gus Mahrus lantas menekankan pentingnya para santri mengendalikan internet.

Pandangan ini didasari kekhawatiran atas konten-konten negatif yang terdapat di dunia maya. Mulai dari konten radikalisme, pornografi, hingga ‘kebebasan mutlak’ di dunia maya.
Gus Mahrus meyakini, kemampuan santri mengendalikan internet hanya bisa dilakukan jika telah memiliki bekal keagamaan yang cukup.

Cara pandang dan pendekatan terhadap internet yang terkesan protektif itu, pada dasarnya tak hanya dimonopoli Pesantren Asshidiqiyah.

Sejumlah sarjana baik dari dalam maupun luar negeri juga memiliki cara pandang yang hampir serupa.

Mark Slouka, pemikir humanis kelahiran New York, dalam bukunya Ruang yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan (1999) menyebut, apa yang ditawarkan dunia siber, termasuk kenyataan-kenyataan di dalamnya, justru berpotensi mengisolasi manusia dari realitas yang sesungguhnya.

Keterisolasian itu membuat individu abai terhadap persoalan yang ada di hadapannya. Misalnya seorang tetangga yang kelaparan, atau teman yang tertimpa kesulitan.

Kritikus budaya Hikmat Budiman mengutarakan hal yang hampir sama.

Secara kritis Hikmat menyoroti optimisme sebagian kalangan terhadap kemajuan teknologi, khususnya internet. Beberapa yang disorot Hikmat dalam bukunya Lubang Hitam Kebudayaan (2002) adalah kecenderungan penyebaran gagasan-gagasan politik identitas melalui medium internet.

Selain itu, Hikmat juga mempertanyakan klaim bahwa komputer, termasuk internet, membuat sebagian dalam hidup manusia menjadi lebih mudah. Tanpa menafikan kemudahan-kemudahan yang diberikan komputer, Hikmat secara kritis melihat kecenderungan ke arah ketergantungan manusia terhadap komputer.
Ketergantungan terhadap komputer, menurut Hikmat, berisiko melahirkan apa yang ia sebut sebagai amputasi sosial, yakni suatu hubungan sosial yang dimediasi oleh komputer, tanpa keterlibatan fisik sehingga kehilangan banyak sentuhan psikologis.

Hikmat mengingatkan, pola hubungan sosial yang demikian, secara perlahan, membawa manusia memasuki sebuah dunia tanpa makna.

Kegelisahan terhadap invasi internet dalam keseharian masyarakat, khususnya di kalangan santri dan pesantren, pada dasarnya merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, tak semestinya kegelisahan menutupi banyak hal positif yang ditawarkan oleh internet.

Savic Ali, pegiat literasi media di kalangan santri, adalah salah satu yang menyambut era digital dengan penuh optimisme.

Bagi Savic, internet atau media sosial, pada titik tertentu ikut membantu meningkatkan kesadaran santri dari yang awalnya ‘terkungkung’ hanya pada lingkungan pesantren, menjadi kesadaran yang lebih kosmopolit atau mendunia.
Internet atau media sosial, pada titik tertentu ikut membantu meningkatkan kesadaran santri dari yang awalnya ‘terkungkung’ hanya pada lingkungan pesantren, menjadi kesadaran yang lebih kosmopolit atau mendunia. Internet atau media sosial, pada titik tertentu ikut membantu meningkatkan kesadaran santri dari yang awalnya ‘terkungkung’ hanya pada lingkungan pesantren, menjadi kesadaran yang lebih kosmopolit atau mendunia. (CNN Indonesia/Muhammad Amas)

Kesadaran yang kosmopolit itu dimungkinan lewat interaksi sosial yang tak terikat ruang dan waktu, yang ditawarkan internet. Santri dapat berinteraksi dengan orang-orang berlatar belakang berbeda sehingga semakin membuka wawasan mereka.

Dengan kata lain, internet telah membuka ruang demokratisasi dalam mengakses informasi dan pengetahuan seiring dengan semakin mudah dan murahnya akses terhadap internet. Saat ini, kata Savic, hampir semua orang termasuk santri, bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih luas.

“Kalau zaman dulu teknologi itu kan ibaratnya keistimewaan yang dimiliki kelas menengah kota saja, sekarang tidak lagi,” ujarnya.
Savic yang juga menjabat Direktur NU Online, bukannya tak menyadari imbas negatif internet bagi para santri. Ia mengakui ada benturan antara keterbukaan yang ditawarkan internet dengan nilai-nilai Islam yang tertanam dalam diri santri. Namun, dia yakin santri dapat mendamaikan kedua hal tersebut.

“Sangat jarang kita menemukan santri yang sangat ortodoks, atau sangat sempit, ekstrem. Itu menunjukkan bahwa santri punya cukup kemampuan dalam merespons hal berbeda yang dia lihat,” katanya.

Internet memang telah menjadi salah satu penanda utama generasi milenial, tak terkecuali di kalangan santri. Perkembangannya yang sedemikian masif dan cepat telah membuat siapa pun hampir tak kuasa menolak kehadirannya.

Dunia perlahan berubah menjadi apa yang disebut Marshall McLuhan pada 1960-an sebagai sebuah kampung global, di mana hampir setiap orang dapat terhubung dan berkomunikasi, sekaligus mengakses informasi tanpa terkendala ruang dan waktu.

Di kalangan santri dan pesantren, menurut Savic, era keterhubungan melalui internet baru berjalan intensif pada 2009 seiring dengan masuknya smartphone murah dari China.

Savic mahfum jika masih ada beberapa pondok pesantren yang melakukan pembatasan ketat terkait akses santri terhadap internet. Dia menilai hal itu sepenuhnya murni berdasarkan pertimbangan pondok yang bersangkutan.

Pembatasan tersebut juga bisa dimaklumi mengingat masyarakat Indonesia saat ini masih berada di posisi konsumen atas informasi yang ditawarkan internet.

Konsumen lebih rentan terhadap manipulasi informasi.
Nala dan teman-teman sebayanya di Pesantren Asshidiqiyah, mungkin termasuk bagian dari mayoritas masyarakat yang masih berposisi sebagai konsumen. Oleh karena itu, Savic bersama lembaga dan jaringannya aktif mengadakan workshop literasi media ke sejumlah daerah dan pesantren agar santri tak hanya menjadi konsumen, melainkan juga produsen informasi.

Savic sadar, tak mudah mewujudkan hal tersebut. Butuh waktu yang panjang. “Tetapi itu penting karena masyarakat masa depan ditentukan oleh informasi yang beredar hari ini."

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK