Santri Diminta Memperalat Teknologi untuk Jaga NKRI

Rizki Saputra, CNN Indonesia | Minggu, 22/10/2017 14:46 WIB
Menteri Agama Lukman Hakim mengatakan, santri harus mampu memanfaatkan internet karena saat ini semua orang menjadi 'umat digital'. Ribuan santri memadati pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat sejak pagi. Mereka menghadiri apel akbar dan kirab budaya Hari Santri Nasional. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan, Hari Santri Nasional tahun ini harus menjadi momentum bagi para santri untuk berjihad. Namun, konteks jihad itu disesuaikan dengan era saat ini, yaitu melek teknologi informasi.

"Santri perlu memperalat teknologi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan," ujar Said Aqil saat berpidato di Tugu Proklamasi Jakarta, Minggu (22/10).

Said mengatakan, sebagai pelajar yang menempa pendidikan di pondok pesantren, santri harus mewaspadai bahaya dunia digital. Para santri diharap mampu membendung informasi hoaks dari internet.


"Internet bisa digunakan untuk menyebarkan pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga sebaliknya digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks," ujarnya.

Said berharap para santri mampu menghadapi tantangan transformasi teknologi informasi. Menurutnya, internet adalah bagian kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagad dalam dunia maya. Penggunaannya ditujukan untuk dakwah menyebarkan kebaikan.

"Santri harus mereduksi penggunanya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama, jiwa, nalar, harta, keluarga dan martabat seseorang," ujarnya.

Said menegaskan penggunaan internet harus disikapi sesuai kaidah fikih. Baginya, dunia maya mempunyai manfaat dan mudarat yang sama-sama besar. Atas dasar itu, informasi dunia maya harus disikapi dengan baik.

Senada dengan Said, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan, santri dituntut memiliki kemampuan berinteraksi yang baik dalam menggunakan media sosial. Hal ini, kata Lukman, juga kerap disampaikan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke pondok pesantren.

"Digitalisasi menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kita. Sekarang semua menjadi umat digital, santri harus mampu memanfaatkan internet, berbagai macam perangkat digital dalam rangka upaya menebarkan nilai agama untuk kemaslahatan bersama," ucapnya.

Lukman menambahkan, komitmen pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional merupakan wujud penghargaan terhadap jasa dan kontribusi santri hingga saat ini.

"Ya, tentu negara melalui pemerintah menetapkan hari santri sebagai wujud penghargaan, selain pengakuan bahwa memang kontribusi, sumbangsih, dukungan kaum santri terhadap negara ini luar biasa besar," ujarnya.

Santri Diminta Memperalat Teknologi untuk Jaga NKRIKomitmen pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional merupakan wujud penghargaan terhadap jasa dan kontribusi santri hingga saat ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bagi Lukman, Hari Santri bisa dijadikan sebagai momentum bagi masyarakat untuk senantiasa berpegang pada agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah persoalan kebangsaan yang makin memprihatinkan.

"Agar tetap menjadi negara bangsa yang tetap senatiasa memegangi agama dalam menjalani kehidupannya, agama yang menebarkan kedamaian dan kerukunan bagi sesama," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, Hari Santri Nasional merupakan realisasi janji kampanye Jokowi saat Pilpres 2014.
Bagi Tjahjo, Hari Santri merupakan wujud pemerintah agar masyarakat tak melupakan peran santri dan kiai pada masa pascakemerdekaan. Saat itu para santri turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

"Hari Santri Nasional ini merupakan janji kampanye Jokowi yang sudah terealisasi, pemerintah mengajak dan mengingatkan bahwa para santri ini mulai sebelum kemerdekaan sudah berperan sampai sekarang untuk mengisi pembangunan," kata Tjahjo saat menghadiri apel Hari Santri.

Tjahjo berpendapat, Hari Santri Nasional bisa menjadi momentum untuk membentengi ideologi Pancasila. Baginya, mempertahankan ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI bukan hanya tanggung jawab TNI dan Polri, namun seluruh bangsa Indonesia.
"Hari Santri juga bisa dijadikan sebagai benteng. Benteng Pancasila, benteng ideologi bangsa harus dipertahankan sampai tetes darah penghabisan," kata Tjahjo.

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK