Savic Ali
Direktur NU Online, Sekretaris Lembaga Talif wan Nasr (Departemen Komunikasi & Media) PBNU dan Editor Islami.co

Melihat Corak Milenial Santri

Savic Ali, CNN Indonesia | Senin, 23/10/2017 08:41 WIB
Melihat Corak Milenial Santri Salah satu corak milenial santri adalah begitu dekat dan akrab dengan teknologi. Hal itu membuat santri begitu luas jaringan dan pemikirannya. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kategorisasi milenial yang merujuk pada situasi Amerika sebenarnya tidak sepenuhnya tepat jika dipadukan dengan kondisi di Indonesia. Di Amerika, generasi milenialnya sudah mengenal teknologi dari kecil. Mereka boleh dibilang digital native. Sementara generasi lahir yang sama di Indonesia pada 1990 belum mengenal internet. Jadi, tidak sepenuhnya sama.

Mungkin persamaannya generasi milenial Amerika yang lahir tahun 1980-an, sedangkan di Indonesia generasinya lahir tahun 1990-an. Jadi memang kita harus melihat bahwa penggunaan istilah itu tidak sepenuhnya pas untuk konteks Indonesia. Jika mengacu pada ukuran tahun lahir.

Secara umum generasi-generasi muda disebut generasi milenial karena perpindahan milenium. Namun, sekali lagi, perpindahan milenium di Amerika berbeda dengan di Indonesia. Sebagai contoh, di Nahdlatul Ulama (NU) mengenal dunia online tahun 2009-2010 ketika ada smartphone murah. Sangat berbeda. Di Indonesia agak terlambat. Secara umum orang Indonesia juga begitu, terlambat 10 tahun dengan generasi milenial di Amerika.


Dalam konteks santri, generasi milenial sekarang memiliki karakter-karakter yang tidak sama dengan generasi milenial di Amerika. Misalnya, generasi milenial Amerika dianggap lebih lincah dalam mengekspresikan diri, lebih susah bertahan di satu pekerjaan dalam waktu lama, lebih kreatif, lebih tidak bisa ditekan, lebih optimis dan tidak begitu khawatir dengan masa depan. Sehingga mudah pindah kerja, karena percaya diri. Generasi milenial Amerika, hasratnya berpetualang di dunia kerja. Sementara di Indonesia tidak seperti itu, dari muda sampai tua berkarir.

Dalam konteks santri, yang punya karakter seperti ini, boleh jadi generasi yang dibilang sebagai generasi Z. Yakni mereka yang lahir pada tahun 1996 ke atas, bukan yang lahir besar tahun 1980, seperti generasi milenial di Amerika. Karena apa? mereka inilah yang lahir pada tahun 1996 ke atas bisa dibilang digital native. Dia begitu SD sudah kenal internet, sehingga itu mempengaruhi. Dia sudah mengenal game (permainan online).

Jadi, memang tidak bisa disamakan. Tetapi bahwa kita melihat di generasi-generasi kita yang lebih belakang yang lahir 1996 ke atas, kita justru melihat corak milenial, seperti generasi Amerika. Generasi milenial di Indonesia, coraknya generasi milenial Amerika tahun 1980-an.
Dalam konteks ini santri juga sama. Misal, santri-santri yang disebut sebagai generasi milenial adalah santri yang lebih muda, yang rata-rata melek tenologi, mengenal game internet, terkoneksi, lebih banyak menggunakan komunikasinya dengan menggunakan teks, bukan telepon. Lebih banyak berkomunikasi dengan messengger, ketimbang telepon. Generasi sebelumnya lebih senang telepon. Generasi ini seperti malas bertelepon. Dia bisa chatting sampai setengah jam ibaratnya mengetik, tapi dia tidak terbiasa menelepon lama.

Ini corak-corak yang terjadi di kalangan santri secara umum. Generasi-generasi santri yang lebih muda juga memiliki corak yang hampir sama dengan corak generasi milenial. Cuma pada dasarnya mereka memiliki umur yang jauh lebih muda. Dan yang jelas mereka sangat melek digital.
Corak milenial santri lainnya, mereka connected (terhubung) dengan santri lainnya dari ponpes dan kota berbeda.Corak milenial santri lainnya, mereka connected (terhubung) dengan santri lainnya dari ponpes dan kota berbeda. (CNN Indonesia/Muhammad Amas)

Corak milenial lainnya, mereka connected (terhubung) satu sama lain. Mereka terkoneksi satu sama lain. Mereka memiliki koneksi yang sangat luas di media sosial. Saya ingin mencontohkan jaringan apa yang disebut sebagai akun instagram santri (AIS). Yaitu ada AIS Jakarta, ada AIS Jawa Tengah, AIS Lampung, AIS Jawa Timur, AIS Surabaya. Ini akun instagram santri, masih muda-muda, remaja-remaja, rata-rata di bawah umurnya 20 tahun. Mereka sangat aktif menggunakan instagram. Mereka biasa cuma unggah kutipan, meme, gambar, video, dan juga pesan kiainya. Mereka sangat aktif di instagram sebagaimana generasi milenial yang lain.

Pemanfaatnya jelas karena mereka bisa sharing informasi. Selain itu, sharing pengetahuan antarmereka lebih baik daripada generasi sebelumnya. Jadi mereka lebih mampu membangun network tingkat nasional lebih baik dari generasi sebelumnya. Dengan kemampuan dan keakraban dengan teknologi digital, dengan social network, dengan social media, membuat mereka secara umum bisa membangun jaringan yang lebih luas daripada santri di masa sebelumnya.

Pada generasi sebelumnya, saat mondok mungkin hanya kenal santri dari satu pondok. Tidak kenal dengan santri dari pondok lain, apalagi dari kota lain. Tapi santri-santri sekarang bisa mengenal santri-santri di tempat lain dengan adanya media sosial, dengan adanya social network. Atau kadang-kadang membuat agenda bersama.
Misalnya, kampanye ‘Ayo Mondok.’ Jadi santri-santri ini karena Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU, departemen yang mengenalkan pesantren, ingin memperkenalkan pesantren ke kalangan di luar NU, sehingga membuat kampanye ‘Ayo Mondok.’

Nah ini banyak santri milenial yang berperan, dalam konteks ikut mempopulerkan, atau menjelaskan kehidupan di pesantren seperti apa. Sebab, mereka foto suasana-suasana di pesantren. Mulai dari ketika belajar bersama, mengaji, salat berjamaah, bermain bersama, makan bersama. Juga kondisi fisik dan bangunan pesantren. Mereka juga membuat meme, kutipan-kutipan, atau kata-kata mutiara yang lazim dikenal kalangan pesantren. Jadi mereka sangat berkontribusi dalam konteks memperkenalkan pesantren ke kalangan yang lebih luas.

[Gambas:Video CNN]

Apalagi, banyak literatur-literatur pesantren dalam format digital, seperti PDF. Banyak kitab-kitab, santri-santri yang baca Alquran lewat gawai, tidak lagi pegang Alquran. Itu salah satu karakteristik genersi digital. Belum lagi, hadis-hadis yang disimpan di dalam gawai santri. Kitab-kitab ada di dalam komputernya, sehingga mereka tidak perlu membeli dan menumpuk kitab. Kecuali kitab yang bisa disimpan. Sekarang sudah ada kitab-kitab yang disimpan dalam satu lepengan cakram. Pada Generasi sebelumnya tidak ada. Dan itu mempengaruhi dan mengubah pola pikir dan perilaku.

Selain itu, dengan digital, banyak santri yang penjelajahan intelektualnya lebih luas daripada santri generasi sebelumnya. Belum lagi kemampuan teknologi dalam konteks mengartikan berbagai bahasa, karena banyak sekali generasi digital bisa membahas artikel dengan bahasa lain, menggunakan google translate. Itu juga salah satu fenomena yang mempengaruhi. Sehingga membuat santri-santri pengetahuannya lebih kaya.

Secara umum generasi santri digital, wawasan pengetahuannya lebih luas daripada sebelumnya karena bersentuhan lebih banyak kitab. Walaupun ada hipotesis bahwa generasi digital itu lebih jarang membaca. Ini yang harus diriset, saya belum tahu persis kondisi ini di kalangan santri.
Kendati begitu, santri cukup memiliki tradisi membaca karena mereka harus belajar kitab-kitab di pesantren. Jadi mereka tetap harus membacanya. Generasi-generasi secara umum sekarang dianggap sudah tidak baca buku, membacanya via gawai.

Tradisi santri membaca buku masih lumayan terjaga, karena banyak ekosistem di pesantren mengondisikan untuk tetap membaca kitab. Apalagi, ada tes dari kiai membaca kitab. Belum lagi musyawarah. Jika musyawarah, pendapat santri ini merujuk pada kitab mana, halaman berapa. Tradisi itu sangat kuat di pesantren. Jadi, ukuran milenial itu familiar dengan teknologi.

[Gambas:Video CNN] (djm/asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA