Analisis

Keraguan Golkar dan Ancaman Mesin Politik Macet di Jabar

Feri Agus, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 06:36 WIB
Keraguan Golkar dan Ancaman Mesin Politik Macet di Jabar Langkah Golkar mengusung Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018 menunjukkan ketidakpercayaan diri partai berlambang beringin. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Golkar resmi mengusung Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien sebagai bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018.

Keduanya mendapat restu lewat surat keputusan yang diteken Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham.

Ridwan Kamil atau yang karib disapa Kang Emil, kini masih menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Sedangkan Daniel merupakan Anggota Komisi V DPR. Dia juga menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Indramayu.


Daniel merupakan putra terpidana korupsi, Irianto M.S. Syafiuddin alias Yance, yang juga mantan Bupati Indramayu. Kini, ibu Daniel, Anna Sophanah yang menduduki posisi Bupati Indramayu.
Penunjukkan Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat, menurut pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun, memperlihatkan pudarnya kepercayaan diri partai berlambang pohon beringin itu, untuk mengusung kader sendiri.

Padahal, kata pria yang karib disapa Ubed itu, Golkar memiliki kader potensial yakni Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Menurut Ubed, Golkar telah meragukan elektabilitas Dedi, yang memimpin Purwakarta selama dua periode.

"Golkar tidak percaya diri mencalonkan kadernya. Padahal Dedi Mulyadi adalah kader terbaik Golkar di Jawa Barat," kata Ubed saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Sabtu (28/10).

Ubed menyoroti kegagalan kaderisasi di tubuh Golkar dalam mempersiapkan kadernya untuk bertarung dalam Pilgub Jabar 2018. Apalagi Dedi yang notabene Ketua DPD Golkar Jawa Barat tak dilirik pengurus pusat.

Ubed melanjutkan, pilihan Golkar mengusung Kang Emil-Daniel dalam Pilgub Jabar 2018 ini, memperlihatkan keberhasilan Kang Emil, meyakinkan elite partai yang kini dipimpin Setya Novanto tersebut.

"Pragmatisme politik elite Golkar nampaknya lebih kuat dibanding idealisme partainya. Sehingga lobi Ridwan Kamil mampu mencuri hati elite Golkar," ujarnya.

Ubed mengatakan, pilihan Golkar mengusung Kang Emil-Daniel semakin memperlihatkan bahwa pengambilan keputusan dalam pencalonan gubernur masih sentralistik di DPP partai.

Sebaiknya, kata dia, suara pengurus partai daerah didengar dan menjadi bahan pertimbangan.

"Padahal polanya bisa bottom up, DPP Partai mestinya mendengar aspirasi dari DPW atau DPD di bawahnya," ujarnya.

Mesin Politik Golkar Macet

Tak ditunjuknya Dedi sebagai bakal calon gubernur Jabar oleh Golkar akan berimbas pada suara Golkar, yang lebih memilih pasangan Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien.

Ubed berpendapat, elite Golkar lupa jika Dedi merupakan pemimpin Golkar Jawa Barat.
Pudarnya Kepercayaan Diri Golkar di Pilgub Jabar 2018Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (CNN Indonesia/Mundri Winanto)
Menurut dia, posisi Ketua DPD partai, seperti Dedi di Jawa Barat, sangat penting untuk mendulang suara kemenangan dalam pemilihan kepala daerah.

"Tentu saja posisi Dedi Mulyadi memungkinkan bisa menghambat kerja mesin politik partai saat pilkada," ujarnya.

Ubed membandingkan keputusan yang diambil Golkar pada Pilgub Jabar 2018 ini, dengan langkah PDIP mengusung calon pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Kala itu, PDIP tak mendengar aspirasi dari pengurus partai daerah dan akar rumput.

Faktanya, pasangan yang diusung PDIP yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat keok dari Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

"Kasus Golkar dalam Pilkada Jawa Barat untuk 2018 ini mirip kasus PDIP dalam pilkada DKI 2017. Aspirasi kader tidak di dengar DPP," kata Ubed.

Ubed mengatakan, keputusan Golkar hari ini untuk kontestasi Pilgub Jabar 2018 akan memengaruhi suara partai yang besar di era Orde Baru itu pada Pemilu 2019 mendatang.

Pengaruh Yance

Pengamat politik Universitas Padjajaran Idil Akbar berpendapat, keputusan DPP Golkar memilih Kang Emil-Daniel karena pengaruh Yance, ayahanda Daniel.
Pengaruh Yance sebagai kader senior Golkar juga dianggap bisa memengaruhi keputusan DPP Golkar.
Pudarnya Kepercayaan Diri Golkar di Pilgub Jabar 2018Irianto MS Syaifuddin alias Yance. (Antarafoto/Agus Bebeng)
Yance merupakan mantan Ketua DPD Golkar Jawa Barat sebelum Dedi. Dia juga mantan Bupati Indramayu dua periode.

"Kenapa Daniel yang juga diusung oleh Golkar? Hal ini saya kira masih terkait dengan, masih besarnya pengaruh bapak Daniel yakni Yance di DPP. Sehingga bisa menempatkan anaknya bersama RK (Ridwan Kamil)," kata Idil.

Meskipun demikian, Idil mengatakan, Golkar memiliki pertimbangan yang matang hingga akhirnya memutuskan mengusung Kang Emil-Daniel untuk maju dalam Pilgub Jabar 2018.

Menurut dia, pertimbangan yang paling besar dengan keputusan tersebut, karena tingkat popularitas dan elektabilitas Emil.

"Sejauh dinamika politik di Jabar tidak fluktuatif yang dapat mengubah pilihan rakyat Jabar secara ekstrem kepada RK (Ridwan Kamil), maka RK (yang diusung Golkar) memiliki peluang untuk terpilih," tuturnya.