Anies Heran Bangsa Indonesia Sering Berselisih Paham

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 10:22 WIB
Anies Heran Bangsa Indonesia Sering Berselisih Paham Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak seluruh masyarakat bersatu dan tidak mudah tersulut amarah kebencian, terutama jika ada kekeliruan berbicara. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku heran dengan bangsa Indonesia yang dia anggap mudah terpecah belah hanya karena pemikiran dan pendapat.

Hal itu disampaikan oleh Anies dalam pidato bertema kesatuan bangsa untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober kemarin. Pada sambutan upacara itu, Anies membacakan salinan pidato Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Anies dalam pidatonya mengatakan, akses komunikasi yang sangat mudah di era digital ini telah memperluas ruang publik untuk masyarakat berdiskusi menyuarakan pikiran.


"Anehnya, justru dengan berbagai macam kemudahan yang kita miliki hari ini, kita justru lebih sering berselisih paham, mudah sekali memvonis orang, mudah sekali berpecah belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian," kata Anies di Lapangan IRTI Monas, Senin (30/10).

Pemuda Indonesia, kata Anies, seolah-olah dipisahkan oleh jarak yang tak terjangkau, atau berada di ruang isolasi yang tidak terjamah, atau terhalang oleh tembok raksasa.

"Padahal, dengan kemudahan teknologi dan sarana transportasi yang kita miliki hari ini, seharusnya lebih mudah buat kita untuk berkumpul, bersilaturahim dan berinteraksi sosial," kata Anies.


Anies mengimbau bangsa Indonesia tidak mudah tersulut amarah kebencian, terutama jika ada kekeliruan berbicara.

"Sebetulnya, tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci, karena semua hal dapat kita konfirmasi dan kita klarifikasi hanya dalam hitungan detik," kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2014-2016 itu mengajak masyarakat membayangkan betapa sulitnya pemuda bangsa zaman dahulu untuk memperoleh akses transportasi, tetapi mereka berhasil menyatukan bangsa.

"Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi? Bukan hanya bertemu, tapi mereka juga berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan gagasan hingga akhirnya bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen keIndonesiaan," ucap Anies.


Padahal, lanjut Anies, jarak antara Sawah Lunto dengan Kota Ambon, lebih dari 4.000 kilometer. Hampir sama dengan jarak antara Jakarta ke Shanghai di China. Kondisi tersebut dipersulit dengan alat komunikasi yang masih terbatas, yakni mengandalkan surat pos.

Tak hanya kedua pahlawan itu yang dicontohkan, Anies juga menyebut Mohammad Yamin kelahiran Sawah Lunto, Sumatera Barat yang mewakili Jong Sumatranen Bond (organisasi pemuda Sumatera). Lalu, pahlawan lain dari belahan Timur Indonesia, Johannes Leimena kelahiran Ambon, Maluku, yang mewakili organisasi pemuda Jong Ambon. Kesemuanya memiliki latar belakang agama, suku, bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda.

"Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa sekat dan batasan-batasan tersebut tidak menjadi halangan bagi para pemuda Indonesia untuk bersatu demi cita-cita besar Indonesia. Inilah yang kita sebut dengan 'Berani Bersatu'" ucapnya menutup pidato.