Kapolda Papua Duga Motif Pilkada Dalam Serangkaian Penembakan

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Jumat, 03/11/2017 03:27 WIB
Kapolda Papua Duga Motif Pilkada Dalam Serangkaian Penembakan Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Spedy Paereng)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan ada motif terkait dengan Pilkada 2018 mendatang dalam sejumlah aksi penembakan yang dilakukan kelompok bersenjata di Papua.

"Kami melihat ada motif-motif lain, kalau pilkada memang tidak bisa digeneralisir, tetapi ada indikasi, dari hasil penelusuran kita kelompok-kelompok ini juga dapat dimanfaatkan oleh para paslon untuk meraih dukungan," kata Boy di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (2/11).


Kapolda Papua Duga Motif PIlkada Dalam Serangkaian PenembakanBoy Rafli Amar (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Terkait dengan pengamanan pilkada, Boy menuturkan Polda Papua akan fokus dalam pengamanan di objek-objek vital. Untuk pengamanan di objek vital sendiri, menurutnya sudah ada tim satuan pengaman yang telah dipersiapkan.


"Tentu kalau kaitan objek vital pasti, kantor pemerintahan, kantor KPU, Bawaslu, itu berpotensi menjadi sasaran amuk massa pendukung," kata Boy.

Polda Papua, sambung Boy, juga telah menyiapkan sekitar 7000 personel untuk pengaman pilkada. Jumlah tersebut, lanjutnya juga masih akan dilengkapi pasukan dari Brimob yang berjumlah tujuh kompi.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengungkapkan dirinya telah mendapatkan berbagai informasi terkait situasi terkini di Papua dari Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih.

Dari informasi tersebut, kata Wiranto, pemerintah akan segera menyiapkan langkah antisipasi untuk menjamin situasi pilkada di Papua bisa berjalan kondusif. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir terjadi beberapa insiden penembakan yang terjadi. Wiranto berpendapat motif penembakan tersebut juga harus didalami lebih jauh lagi.

"Apakah itu unsur kesengajaan dari kelompok-kelompok radikal, apakah itu bagian dari ingin menggangu pelaksanaan pilkada, itu kan kita waspadai semua," ujar mantan Panglima ABRI (sekarang TNI) tersebut.

Gaet Tokoh Agama dan Adat

Di satu sisi, Boy Rafli mengatakan pihaknya melibatkan tokoh agama dan tokoh adat dalam menangani konflik kelompok bersenjata di Papua. Selain pendekatan persuasif terhadap kelompok bersenjata, Boy mengatakan pihak kepolisian daerah Papua juga tetap melakukan penegakan hukum.

"Jadi seluruh aktivitas yang ada diharapkan bisa menurunkan aktivitas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata," tutur Boy.


Boy menuturkan setidaknya ada dua kelompok bersenjata yang ada di Timika, Papua, yakni kelompok Waker dan kelompok Kwalik.

Kelompok Waker saat ini dipegang oleh Sabinus Waker. Kelompok ini diperkirakan memiliki sekitar 8-15 pucuk senjata. Sementara untuk kelompok Kwalik yang  ini dipimpin dari Kelly Kwalik dengan perkiraan jumlah senjata yang kurang lebih sama dengan kelompok Waker. Perkiraan, masing-masing kelompok itu diperkuat 15-30 orang.

"Mereka bervariasi satu sama lainnya, karena di antara mereka ini ada lagi yang di daerah pegunungan tengah. Pegunungan tengah itu seperti Lani Jaya, Puncak Jaya, dan Kabupaten Puncak," tutur Boy.


Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit mengatakan salah satu kesulitan yang dihadapi dalam mengatasi masalah kelompok bersenjata tersebut adalah kesigapan mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Selain itu, kelompok bersenjata tersebut juga membaur dengan masyarakat, sehingga kata Supit aparat keamanan perlu benar-benar memastikan targetnya agar tidak salah sasaran.

"Ya istilah kita dia gunakan taktik kutu loncat atau apa ya, kira-kira seperti itu," kata Supit.