Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Suyudi Ari Seto mengatakan, awalnya massa berencana melanjutkan aksi di depan istana negara dan Kementerian Perhubungan. Namun polisi mengadang dan mengingatkan agar massa segera pulang, karena sesuai peraturan gubernur DKI aksi dibatasi hingga pukul 18.00 WIB.
"Alasannya mau ke balai kota lagi untuk penutupan. Langsung kami imbau, kami somasi, kami tahan agar tidak bisa kembali (ke Balai Kota)," ujar Suyudi ditemui di lokasi, Jumat (10/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya beri waktu lima menit untuk membubarkan diri sebelum kami bubarkan paksa," ujar Suyudi melalui pengeras suara.
Buruh sempat membakar ban saat aksi massa menolak upah murah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Harap tenang, jangan terpacing,” ucap koordinator aksi.
Massa yang berasal dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cirebon itu berunjuk rasa di Balai Kota dan Istana Negara sejak Jumat (10/11) siang.
Mereka menyuarakan tiga tuntutan. Pertama, menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan. Kedua, mendesak revisi UMP DKI menjadi Rp3.917.000, ketiga meminta pemerintah menurunkan harga listrik dan kebutuhan pokok.
Berbeda dengan aksi demo sebelum UMP DKI diumumkan, Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno saat itu sempat menemui massa buruh. Namun, dalam aksi buruh kali ini, Sandiaga maupun Gubernur DKI Anies Baswedan tak menemui massa buruh.
Buruh sempat membakar ban saat aksi massa menolak upah murah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)