"Masih" kata pria yang karib disapa Setnov saat dikonfirmasi soal posisinya sebagai Ketua DPR, usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/11).
Posisi Setnov di kursi Ketua DPR belakangan kembali disorot. Sejumlah anggota fraksi di DPR mendesaknya mundur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Anggota DPR) baik-baik saja," kata dia sembari berjalan menuju mobil tahanan.
"Pemeriksaan lanjutan saja," tuturnya.
Pada Senin awal pekan ini, Setnov diketahui menuliskan dua pucuk surat yang ditujukan kepada DPP Partai Golkar dan pimpinan DPR. Lewat surat itu, tersirat Setnov tak mau dicopot begitu saja sebagai Ketua Umum Partai Golkar maupun Ketua DPR.
Untuk surat kepada DPP Golkar, Setnov menulis, menunjuk Idrus Marham sebagai Pelaksana tugas (Plt) ketua umum, Yahya Zaini sebagai Plt Sekretaris Jenderal, dan Aziz Syamsuddin sebagai Plt Wakil Sekretaris Jenderal.
Dalam surat itu dia juga meminta Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) tak menggelar sidang pleno untuk menonaktifkan selaku Ketua DPR maupun selaku anggota dewan.
Desakan mundur kepada Setnov tak hanya datang dari sejumlah anggota fraksi di DPR. Desakan juga datang dari masyarakat, seperti pada Kamis pagi ketika Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) melaporkan Setnov ke MKD.
Lihat juga:Setya Novanto Kembali Dilaporkan ke MKD |
Menurutnya, laporan itu sudah berdasarkan kajian. Andi menilai, MKD harus menjaga martabat DPR dari keberadaan orang yang merusak citra parlemen.
"Kami sudah menyaksikan bagaimana ketua DPR itu seperti bukan anggota DPR. Sehingga kita punya gerakan moral untuk mendesak sesegera mungkin Ketua DPR itu diganti," kata Andi. (wis/sur)