Tak ada rasa khawatir, apalagi takut akan ancaman bahaya erupsi Gunung Agung. Sebab, tepat 10-12 km ke arah barat daya dari tempat Nengah berada, Gunung Agung terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
"Masih merasa aman, tapi besok lihat situasi lagi," kata Nengah sembari menyiapkan makanan yang dipesan CNNIndonesia.com, Senin (27/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak Ada Hiruk Pikuk Wisatawan
Desa Tulamben benar-benar sepi sejak ditinggal banyak warganya mengungsi. Jika biasanya selalu ada saja lalu lalang kendaraan, kini situasi itu tak tampak.
Banyak warung kecil maupun kafe juga tak beroperasi. Padahal, di sini merupakan kawasan wisata pantai.
Central Parking Tulamben yang biasanya menjadi tempat parkir kendaraan para wisatawan yang hendak diving di Pantai Tulamben pun jauh dari hingar bingar kesibukan wisatawan. Hanya ada beberapa motor saja yang terparkir di pinggir pantai.
Ketut Supatre (42) mengatakan suasana sepi di Tulamben sudah terjadi sejak letusan pertama pada 21 November lalu.
Senada dengan Nengah, Ketut pun masih bertahan untuk tetap bertahan, meski rumahnya yang terletak di Banjar Dinas Bahel, Desa Dukuh hanya berjarak 6 km dari puncak Gunung Agung.
"Masih merasa aman, makanya belum mengungsi," ungkapnya.
Aktivitas warga meski terjadi erupsi Gunung Agung. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf). |
"Masih cari tempat penampungan ternak," ucap Nyoman.
Lihat juga:Cara-cara Menghadapi Bahaya Abu Vulkanik |
Wisata tetap Buka
Ketut Supatre yang juga bekerja sebagai petugas retribusi di Diving Tulamben mengatakan hingga saat ini belum ada instruksi dari pemerintah desa maupun dinas pariwisita untuk menutup tempat diving di Tulamben.
"Belum ada instruksi menutup sejak bulan September lalu sampai sekarang," tutur Ketut.
Meski tetap buka, namun jumlah wisatawan yang berkunjung mengalami penurunan sejak status awas Gunung Agung pada dua bulan lalu. Sempat ramai pengunjung ketika status itu dicabut, namun kini turun lagi ketika Gunung Agung kembali menggeliat beberapa hari terakhir.
"Sepi di sini semenjak September lalu," ujarnya. (osc/djm)
Aktivitas warga meski terjadi erupsi Gunung Agung. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf).