Tomi mengaku sejak SMP sudah tertarik dengan punk. Saat itu ia sudah mulai mengumpulkan zine, atau media media cetak alternatif yang di didistribusikan dalam kelompok kecil seperti punk.
Selain majalah ‘Warning’, Tomy juga membuka sebuah perpustakaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, Tomi bercerita, Perpustakaan Rumah Kata dibuat menjadi ruang dan wadah teman-temannya di majalah Warning untuk mengaktualisasikan diri.
Koleksi buku Rumah Kata saat ini mencapai 4.000 eksemplar lebih. (Dok. Istimewa) |
Seiring waktu berjalan, Tomi berkata, bersama temannya tercetus pikiran untuk membuka Rumah Kata untuk masyarakat umum. Hal itu merupakan wujud semangat berbagi seperti yang diajarkan dalam punk.
Menurut Tomi, setelah dibuka untuk umum, timbul kesan awal bahwa perpustakaan itu hanya dibuka untuk anak punk.
Kesan itu tak lain muncul karena banyak teman-temannya yang berkunjung mayoritas merupakan anak punk.
"Kesannya yang mengakses banyak anak punk, padahal sebenarnya umum," ujarnya.
Pada awal berdirinya Rumah Kata pada 2016, perpustakaan itu memiliki 500 buah koleksi buku. Buku itu diperoleh dari donasi buku yang merupakan salah satu syarat meminjam buku di Rumah Kata.
"Sekarang kami punya hampir 4.000-an koleksi buku termasuk majalah dan lain-lain," kata Tomi.
Lihat juga:Ekonomi Berdikari, Bertahan Hidup ala Punk |
Meski demikian, Rumah Kata belum tersosialisasi sepenuhnya di lingkungan sekitar. Berdiri di sebuah kontrakan yang berada di permukiman, Rumah Kata masih belum banyak dikunjungi masyarakat sekitar.
Eksistensi Rumah Kata lantas berkembang dengan kegiatan donasi buku di sebuah lembaga pemasyarakatan untuk anak di Yogyakarta dengan bekerja sama dengan komunitas tato Merdeka.
Ke depan, Tomi berharap, Rumah Kata semakin berkembang dengan banyaknya donasi buku untuk menambah koleksi, termasuk dari para penerbit besar.
[Gambas:Video CNN] (sur)
Koleksi buku Rumah Kata saat ini mencapai 4.000 eksemplar lebih. (Dok. Istimewa)