"Saya enggak yakin betul anak-anak Pak Harto itu kompak mau keluarkan uang tanpa batas untuk dukung Titiek," ucap Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih, pencalonan pimpinan di organisasi sebesar Partai Golkar butuh modal yang tak sedikit. Minimal, katanya, Rp100 miliar mesti dipegang kandidat ketua umum. Maswadi mengakui, harta Keluarga Cendana kemungkinan masih melimpah. Namun, itu tak dikontrol oleh satu orang. Pada akhirnya, Titiek mesti bergantung pada modalnya sendiri.
"Walau secara emosional masih ada saja. Dan (ikatan emosional) ini dimanfaatkan Titiek," imbuh dia.
Sementara, pemilik suara riil Golkar ada di daerah. Terutama, DPD II Partai Golkar. Sejauh ini, Titiek baru mengundang sejumlah sesepuh 'Beringin' di era Orba. Maswadi memandang, itu hanya jembatan kepada kader lainnya. Namun, itu belum cukup untuk meraup dukungan nyata.
"Kalau mau serius, setelah dia menyambangi tokoh-tokoh senior Golkar, dia mesti rajin turun ke bawah. Hubungi, dekati dengan semua DPD I, lalu sambangi DPD II. Ini yang krusial," sarannya.
Dengan situasi tersebut, Maswadi menilai kandidat ketua umum lainnya, Airlangga Hartarto, memiliki keunggulan karena sudah lebih dahulu menggalang dukungan ke daerah-daerah. Selain itu, sosoknya bukan dianggap sebagai orang dekat Ketua Umum Partai Golkar non-aktif Setya Novanto.
Lihat juga:Dukungan DPD I Golkar Bulat untuk Airlangga |
"Kami sangat prihatin, saya, keluarga Pak Harto, bersama saudara-saudara saya, kami sangat prihatin apa yang terjadi di Golkar saat ini," kata Titiek, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/12).
Ia juga mengaku risau dengan stigma Orde Baru. Baginya, era Orba memiliki keuntungan tersendiri yang dirindukan sejumlah pihak. "Ya terserah yang mau nilai bagaimana, emang nyatanya orang-orang (bilang) enakan zaman Orde Baru kan?" klaimnya. (arh/djm)