Mengikisnya Pengagum Soeharto dan Minimnya 'Modal' Titiek

Arif Hulwan Muzayyin, CNN Indonesia | Rabu, 13/12/2017 06:29 WIB
Mengikisnya Pengagum Soeharto dan Minimnya 'Modal' Titiek Siti Hediyati Hariyadi alias Titiek Soeharto mengaku siap maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Namun, pencalonannya diragukan akan didukung seluruh Keluarga Cendana. (Foto: CNNIndonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekuatan finansial Keluarga Cendana dinilai bukan sebagai keunggulan dari Siti Hediyati Hariyadi alias Titiek Soeharto, putri keempat Presiden RI kedua Soeharto, dibandingkan calon ketua umum Partai Golkar lainnya. Penghitungan untung-rugi jadi pertimbangan utama. Sebab, potensi suara hanya mengandalkan mereka yang masih terikat secara emosional dengan Soeharto.

"Saya enggak yakin betul anak-anak Pak Harto itu kompak mau keluarkan uang tanpa batas untuk dukung Titiek," ucap Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/12).

Itu didasarkan atas pertimbangan bahwa sejak era reformasi "uang mudah" tak lagi gampang didapat putra-putri Soeharto seperti di era Orde Baru. Sejak saat itu, mereka, yang terdiri dari Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Titiek, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek, berkonsentrasi pada bisnisnya masing-masing. Perhitungan untung-rugi menjadi pertimbangan utama.


"20 terakhir ini sulit. Jiwa bisnis mulai tumbuh, enggak seperti dulu lagi, obral duit kemana-mana," imbuh dia, yang juga menjabat Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional ini.

Terlebih, pencalonan pimpinan di organisasi sebesar Partai Golkar butuh modal yang tak sedikit. Minimal, katanya, Rp100 miliar mesti dipegang kandidat ketua umum. Maswadi mengakui, harta Keluarga Cendana kemungkinan masih melimpah. Namun, itu tak dikontrol oleh satu orang. Pada akhirnya, Titiek mesti bergantung pada modalnya sendiri.

"Siapa yang mau (mengeluarkan sejumlah) itu? Tutut, Tommy, Bambang mau? Saya perkirakan mereka keningnya berkerut. Mikirnya untung-rugi," selorohnya.

Selain tak bisa mengandalkan kocek Cendana, lanjut Maswadi, Titiek juga mesti kerja keras untuk meraih dukungan pemilik suara. Sejauh ini, tak banyak potensi dukungan kepadanya. Maswadi menggarisbawahi kalangan "pengagum Soeharto" yang masih ada di tingkat pusat. Namun, jumlahnya sedikit sekali. Sebab, sejak era reformasi Golkar sudah mulai terputus hubungannya dengan Keluarga Cendana.

"Walau secara emosional masih ada saja. Dan (ikatan emosional) ini dimanfaatkan Titiek," imbuh dia.

Sementara, pemilik suara riil Golkar ada di daerah. Terutama, DPD II Partai Golkar. Sejauh ini, Titiek baru mengundang sejumlah sesepuh 'Beringin' di era Orba. Maswadi memandang, itu hanya jembatan kepada kader lainnya. Namun, itu belum cukup untuk meraup dukungan nyata.

"Kalau mau serius, setelah dia menyambangi tokoh-tokoh senior Golkar, dia mesti rajin turun ke bawah. Hubungi, dekati dengan semua DPD I, lalu sambangi DPD II. Ini yang krusial," sarannya.

Dengan situasi tersebut, Maswadi menilai kandidat ketua umum lainnya, Airlangga Hartarto, memiliki keunggulan karena sudah lebih dahulu menggalang dukungan ke daerah-daerah. Selain itu, sosoknya bukan dianggap sebagai orang dekat Ketua Umum Partai Golkar non-aktif Setya Novanto.

Terkait hal tersebut, CNNIndonesia.com masih mencoba mengonfirmasi Titiek Soeharto. Namun belum lama ini, Titiek menyebut kesiapannya maju sebagai kandidat ketua umum ini lebih terkait dengan keprihatinan Keluarga Cendana atas kondisi Golkar.

"Kami sangat prihatin, saya, keluarga Pak Harto, bersama saudara-saudara saya, kami sangat prihatin apa yang terjadi di Golkar saat ini," kata Titiek, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/12).

Ia juga mengaku risau dengan stigma Orde Baru. Baginya, era Orba memiliki keuntungan tersendiri yang dirindukan sejumlah pihak. "Ya terserah yang mau nilai bagaimana, emang nyatanya orang-orang (bilang) enakan zaman Orde Baru kan?" klaimnya. (arh/djm)