Pemuda peminat musik punk ini pernah menyelesaikan studi Jurusan Sosiologi. Kini bertugas sebagai writer di kanal nasional-politik, CNNIndonesia.com.
Punk Rapatkan Barisan dari Bawah Tanah
Prima Gumilang | CNN Indonesia
Selasa, 19 Des 2017 09:09 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- “Kita sama-sama Islam. Kita sama-sama beragama. Haruskah kita saling bunuh nanti?” teriak Baskoro dari atas panggung. Kepalan tangannya diacungkan ke udara.Bising gitar langsung menyambar keluar dari pengeras suara, disambut dentuman bass dan ketukan drum bertempo cepat. Vokalis Satellite itu mengawali musik dengan orasi politik sebelum memainkan Haruskah Kita, lagu yang dirilis pada 2001.
Kondisi di bawah panggung berubah chaos. Para pemuda saling sikut, tendang, dan menggoyang badan tak keruan. Sebagian berebut mik untuk ikut bernyanyi. Lainnya melompat dari atas panggung ke tengah kerumunan orang yang sedang pogo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka yang hadir banyak dicukur mohawk. Sejumput rambut penuh warna berdiri tegak di tengah kepala. Jaket kulit dihiasi emblem, pin dan spike. Celana belel ketat berpadu dengan sepatu bot kelas pekerja. Tak sedikit dari mereka sepulang beraktivitas langsung ke tempat acara.
Lihat juga:Punk Tak Pernah Mati |
Udara makin pengap saat ruang pertunjukan mulai dipadati penonton. Maklum, arena tertutup itu tak lebih besar dari lapangan futsal. Rossi Musik ibarat CBGB di New York AS, memberi ruang bagi punk dan musik underground untuk tampil, di tengah sulitnya mencari tempat konser di ibu kota.
Tembok gedung nyaris dipenuhi grafiti. Beberapa poster yang ditempel menyuarakan protes “Tolak Pabrik Semen”. Komunitas punk sendiri pernah menggelar acara Save Kendeng Movement untuk menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.
Di sepanjang lorong, sejumlah lapak menjual berbagai atribut punk, selain makanan ringan dan minuman keras hasil fermentasi racikan sendiri.
Salah satu kaus band Septictank di lapak Movement Record disablon dengan desain “Free Palestine, Save Al-Aqsa, End the Occupation”. Pesan yang disampaikan sejalan dengan gelombang solidaritas yang sedang diserukan dunia untuk Palestina.
Musik masih berlanjut hingga jelang tengah malam. Sexy Pig, Septictank, Satellite, The End, Brigade of Bridge, Lemots, dan Submission adalah band lokal yang tampil pada Jumat (8/12) malam itu. Dua band dari negara lain juga ikut manggung, yaitu Dism (Malaysia) dan Lower Class Brats (AS). Lirik yang mereka ciptakan tak lepas dari seruan kebebasan dan perlawanan.
Pascareformasi, Punk jarang menggelar demonstrasi karena khawatir ditunggangi kepentingan lain. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"When the punks... When the punks... When the punks go marching in... I wanna be in the number... When the punks go marching in..."
Lagu milik Abrasive Wheels itu dinyanyikan keras-keras oleh peserta aksi sepanjang perjalanan dari kawasan Bulungan, Jakarta Selatan ke Markas Besar Polri. Lagu itu seperti panggilan bagi setiap punk untuk bergabung dalam satu barisan.
Senin, 19 Desember 2011, komunitas punk di Jakarta menggelar aksi protes turun ke jalan untuk menyatakan solidaritas kepada puluhan punk di Aceh yang ditangkap dan ditahan aparat kepolisian tanpa proses pengadilan. Peserta aksi mayoritas mengenakan atribut punk.
Saat itu saya juga berada dalam satu barisan demonstrasi tersebut.
Kami bergerak atas kesadaran individu masing-masing. Tak ada yang mengorganisasi demonstrasi, tak ada lembaga yang memayungi. Bendera hitam berlambang huruf A dalam lingkaran yang menjadi simbol anarkisme, berkibar di tengah massa.
Saat polisi bertanya siapa pemimpin yang bertanggung jawab atas aksi tersebut, mereka menjawab, “Saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri.”
Para demonstran membawa spanduk dan poster yang kadang membingungkan bagi pembacanya. Salah satu spanduk besar berbunyi, “Hari Polisi Baik”. Spanduk lainnya bertuliskan, "Jadikan Kami Kambing Hitam!"
Kebanyakan poster yang dibawa berisi pernyataan sikap, seperti "Punks Not Crime", ada juga yang menulis "Kami Bangga Menjadi Sampah Masyarakat." Mereka yang berada di barisan punk tetap bangga menjadi dirinya meski dipandang sebelah mata.
Aksi solidaritas untuk punk Aceh di depan Mabes Polri, Jakarta. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
Di tengah aksi, seorang orator menyampaikan bahwa demonstrasi bukan satu-satunya cara yang dipakai punk untuk menunjukkan perlawanan. Menuntut kepada institusi negara agar menjalankan tanggung jawabnya sama saja mengakui keberadaan mereka yang tidak kredibel.
Pascareformasi, aksi yang digagas komunitas punk bisa terbilang jarang, barangkali masih bisa dihitung dengan jari. Di era sebelumnya, punk kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk mobilisasi massa. Kondisi ini melahirkan kekecewaan sebagian punk hingga akhirnya mereka menjauhkan diri dari kegiatan politik.
Lihat juga:Virus Punk dan Geliat Awal Perlawanan |
Meski demikian, masih ada kelompok punk yang keluar dari jerat politisasi para politikus. Kelompok ini lebih berhati-hati sebelum bergabung dengan sebuah gerakan. Mereka lebih memilih terlibat dalam aksi-aksi solidaritas perjuangan rakyat tertindas.
Sementara ada pula kelompok punk yang membangun perlawanan dengan caranya sendiri. Kelompok ini enggan tampil di hadapan media. Gerakan mereka dibangun dari bawah tanah dengan mempertahankan prinsip do it yourself (DIY).
Konser musik tetap digelar tanpa campur tangan sponsor perusahaan besar. Mereka masih menciptakan lagu dengan lirik yang menggugah kesadaran sosial pendengarnya. Kaus dan emblem disablon dengan menyuarakan pesan protes. Pemikiran kritis yang sebelumnya dituangkan melalui zine, kini diedarkan di media sosial.
Zine merupakan media alternatif yang dibuat di komunitas punk untuk menyebarkan gagasan. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
Mereka memilih memberdayakan kemampuan hidup individu dan membangun pola pikir maju di tengah masyarakat. Gerakannya dibangun dengan menyalurkan bakat individu melalui usaha sablon, desain grafis, fotografi, membuat rumah produksi rekaman, hingga memberikan kursus Bahasa Inggris.
“Kami mulai di lingkungan sekitar dulu, bicara riil soal kerja-kerja nyata. Bukan enggak perlu turun ke jalan, suatu saat itu pasti, kita tetap berontak. Tapi perbaiki dulu ekonomi,” kata Joy, vokalis The Roots yang ikut menghidupi Brengsex City.
Punk tetap bertahan dengan jalan mereka masing-masing. Meskipun pro dan kontra selalu ada di tengah komunitas, tapi musik yang mereka dengar tetap satu: Punk.
Sulit sepertinya bagi individu yang pernah hidup di komunitas punk meninggalkan semangat muda yang bergelora itu.
Bukan tidak mungkin, ruh perlawanan yang telah diembuskan puluhan tahun lalu akan keluar dari gerakan bawah tanah yang mereka bangun hingga kini. Menyuarakan kebebasan yang bertanggung jawab. Suatu saat, lagu yang didengar pun akan menggelorakan aksi perlawanan.
Entah kapan, saya tetap menunggu.
[Gambas:Video CNN]
(vws)
Pascareformasi, Punk jarang menggelar demonstrasi karena khawatir ditunggangi kepentingan lain. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
