TKW Hong Kong Diduga Sokong ISIS dan 'Jihad' ke Suriah

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 30/12/2017 22:56 WIB
TKW Hong Kong Diduga Sokong ISIS dan 'Jihad' ke Suriah Ilustrasi tenaga kerja wanita. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah buruh perempuan migran Indonesia di Hong Kong diduga terlibat aksi menyokong Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) usai mengikuti pengajian di negara tersebut.

Hal itu diperoleh melalui penelusuran bersama CNN Indonesia, Radio KBR dan organisasi non-profit Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (Jaring).

Salah satu pengakuan disampaikan oleh Ina (bukan nama sebenarnya), yang mengatakan dirinya diajak bergabung oleh kelompok pengajian Buruh Migran Indonesia (BMI).

Salah satu tempat pertemuan yang digunakan adalah Kowloon Park yang berada di Masjid Tsim Sha Tsui. Ina sendiri menolak bergabung karena dianggap tak sejalan dengan pemahaman Islam yang dipercayainya.


Insitute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang dirilis akhir Juli lalu menyampaikan soal dugaan keterlibatan puluhan orang BMI Hong Kong dengan ISIS.

Dalam penelusuran kolaboratif tersebut, tim menemukan seorang buruh migran bernama Najma yang diduga berangkat ke Suriah pada 2015. Dia menyusul suaminya Abu Arianto.

Dalam foto tersebut Abu Arianto duduk di tengah, bersisian dengan Najma yang berada di sisi paling kanan.

Selain mereka berdua, seorang lelaki dan empat orang perempuan ikut berfoto. Bagian bawah foto bertuliskan: ‘Memories at 17/8/2014; Masjid TST Hong Kong’.


Hingga kini nasib Najma tak jelas kabarnya.

Lewat Turki

Buruh lainnya, perempuan asal Batang, Jawa Tengah, bernama Aya (bukan nama sebenarnya) juga diduga ingin masuk Suriah melalui Turki. Namun, pada awal 2016, dia dicokok oleh kepolisian Turki sebelum memasuki Suriah.

Lainnya, Lia seorang BMI di Hong Kong juga ingin menggunakan Turki sebagai tempat transit sebelum masuk ke Suriah. Dia bahkan sempat pamit kepada orang tuanya setelah kontrak kerjanya habis di Hong Kong, sebelum ke Turki.

TKW Hong Kong Diduga Terkait Kelompok Pendukung ISIS (EMBG)Ilustrasi ISIS. (INTERNET REUTERS/Dado Ruvic)

Perempuan itu juga dikabarkan hidup berpindah-pindah ketika berada di Turki. Setelah dipulangkan Densus 88 pada Februari lalu, ia hanya bicara ketika ditanya.

Tujuh bulan setelah pulang, Lia hilang rimbanya. Meski sempat pamit untuk bekerja di Bandung, hingga kini ayahnya kesulitan menghubungi lewat telepon genggam.

Sulit Dikonfirmasi

Walaupun demikian, Eni Lestari, Ketua International Migrant Alliance, menuturkan isu soal dugaan keterlibatan buruh terhadap ISIS itu sulit dikonfirmasi.

“Kami dengar (kehadiran BMI pro-ISIS) dua atau tiga tahun yang lalu. Dia (orang) yang melaporkan itu selalu orang ke tiga (atau) ke empat. Enggak bisa dilacak lagi, itu yang membuat kami tidak bisa mengkonfirmasi keberadaannya,” katanya pada Oktober lalu.


Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk Hong Kong dan Makau Tri Tharyat mengaku tidak memiliki data mengenai jumlah BMI Hong Kong yang terlibat dalam kelompok pendukung ISIS.

“Kalau ditanya berapa orang (yang terlibat), saya tidak punya data,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri Muhammad Iqbal memilih meletakkan persoalan radikalisasi terpisah dengan status buruh migran.


“Proses radikalisasi itu terjadi di mana-mana, bukan hanya terjadi di kalangan buruh (migran). Yang saya tidak setuju adalah stigmatisasi bahwa teman-teman TKI sudah terpengaruh FTF (Foreign Terrorist Fighter),” ungkap Iqbal, Agustus lalu.

Meski demikian, dia mengakui bahwa terdapat segelintir BMI Hong Kong yang menjalin komunikasi dengan kelompok pendukung ISIS di Indonesia dan negara lain. (asa)